BERITA TERKINI
Rusia Umumkan Keberhasilan Uji Coba Rudal Balistik Antarbenua RS-28 Sarmat

Rusia Umumkan Keberhasilan Uji Coba Rudal Balistik Antarbenua RS-28 Sarmat

Rusia kembali menampilkan kemampuan strategis nuklirnya setelah mengumumkan keberhasilan uji coba rudal balistik antarbenua RS-28 Sarmat, yang oleh NATO dijuluki “Satan II”.

Menurut keterangan yang disampaikan, rudal tersebut diluncurkan dari Kosmodrom Plesetsk di wilayah Arkhangelsk. Rusia mengklaim rudal itu berhasil menghantam target di lapangan uji Kura di Semenanjung Kamchatka, kawasan Timur Jauh Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin memantau peluncuran melalui sambungan video dari pusat komando Kremlin. Setelah menerima laporan dari Komandan Pasukan Rudal Strategis Rusia Sergei Karakayev, Putin menyebut uji coba itu sebagai “peristiwa besar” dan “keberhasilan tanpa syarat”.

Dalam pernyataan yang kemudian menjadi perhatian luas, Putin menyebut Sarmat sebagai “sistem rudal paling ampuh di dunia”, sebagaimana diberitakan The Barents Observer pada Selasa, 12 Mei 2026.

RS-28 Sarmat merupakan rudal balistik antarbenua generasi baru yang dikembangkan untuk menggantikan rudal era Soviet R-36. Rudal dengan bobot lebih dari 200 ton ini dirancang sebagai tulang punggung kekuatan nuklir strategis Moskow di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara-negara Barat.

Rusia menyebut kemampuan Sarmat tidak hanya ditentukan oleh ukurannya, tetapi juga oleh daya jangkau dan daya rusaknya. Rudal ini diperkirakan memiliki jangkauan hingga sekitar 18.000 kilometer, yang dinilai cukup untuk menjangkau hampir seluruh wilayah dunia dari dalam teritori Rusia.

Kremlin juga mengklaim Sarmat dapat menggunakan jalur penerbangan yang tidak lazim, termasuk melintasi Kutub Selatan, dengan tujuan menghindari radar serta sistem pertahanan rudal milik Amerika Serikat dan NATO.

Dari sisi kecepatan, Sarmat disebut mampu melaju lebih dari Mach 20 atau sekitar 24.000 kilometer per jam pada fase tertentu penerbangan. Dengan kecepatan tersebut, waktu respons pihak lawan menjadi sangat singkat.

Jika diarahkan ke Washington, rudal ini diperkirakan dapat mencapai target dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit, bergantung pada jalur penerbangan dan lokasi peluncuran. Dalam skenario nyata, situasi semacam itu dapat membuat para pemimpin negara hanya memiliki beberapa menit untuk memastikan apakah peluncuran yang terdeteksi merupakan serangan nuklir atau alarm palsu, sebelum mengambil keputusan respons militer.