BERITA TERKINI
The Fed Hadapi Dilema pada 2026: Inflasi Energi Naik, Pasar Tenaga Kerja Melemah

The Fed Hadapi Dilema pada 2026: Inflasi Energi Naik, Pasar Tenaga Kerja Melemah

Pasar keuangan Amerika Serikat memasuki fase transisi yang dinilai semakin rumit menjelang 2026. Inflasi tidak lagi menjadi satu-satunya penentu arah kebijakan moneter, karena muncul tarik-ulur antara kenaikan harga energi dan tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja. Kombinasi dua faktor ini membuat langkah suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) kian sulit diprediksi.

Selama dua tahun terakhir, pasar tenaga kerja AS kerap dipandang sebagai penyangga utama agar ekonomi tidak jatuh ke resesi. Namun, data terbaru mulai menunjukkan retakan. Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) mencatat tingkat pengangguran naik ke 4,4%. Secara historis angka ini masih tergolong rendah, tetapi kenaikannya dari titik terendah 3,4% tahun lalu membuat indikator yang dikenal sebagai “Sahm Rule” mendekati ambang pemicu resesi.

Sahm Rule menyatakan resesi dimulai ketika rata-rata pergerakan tiga bulan tingkat pengangguran nasional naik 0,50 poin persentase atau lebih dibanding titik terendah dalam 12 bulan sebelumnya. Dengan tren pengangguran yang meningkat, perhatian pasar mengarah pada seberapa cepat kondisi tenaga kerja dapat memburuk.

Selain pengangguran, laju penciptaan lapangan kerja juga melambat. Penyerapan tenaga kerja di sektor swasta dilaporkan hanya di bawah 100.000, turun tajam dari rata-rata tahun lalu sekitar 220.000 per bulan. Di sisi lain, verifikasi ulang data bulanan disebut memangkas angka pekerjaan hingga 150.000 posisi. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa kebijakan suku bunga tinggi The Fed di kisaran 5,25%–5,50% mulai menekan ruang ekspansi dunia usaha.

Di tengah sinyal perlambatan ekonomi yang biasanya membuka ruang bagi penurunan suku bunga, tekanan justru datang dari sektor energi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Israel dan Iran, mendorong harga minyak mentah WTI menembus kisaran US$85–US$90 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi tantangan besar bagi The Fed karena berdampak langsung pada inflasi. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, lalu merembet ke harga barang konsumsi. Kenaikan biaya pengiriman dapat diteruskan ke konsumen, sementara harga bensin yang mahal berpotensi menggerus daya beli rumah tangga untuk belanja non-esensial.

Dalam laporan tersebut disebutkan, kenaikan harga minyak yang bersifat permanen sebesar US$10 diperkirakan menambah inflasi tahunan sekitar 0,2% hingga 0,3%. Jika minyak bertahan di atas US$90, target inflasi 2% dinilai semakin sulit dicapai dan berpotensi membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Kondisi ini memunculkan risiko stagflasi, yakni ketika pertumbuhan melemah sementara inflasi tetap tinggi. Dalam situasi normal, kenaikan pengangguran dapat mendorong bank sentral menurunkan suku bunga untuk menstimulasi ekonomi. Namun, bila inflasi masih tinggi akibat energi, pemangkasan suku bunga dinilai bisa memperburuk tekanan harga. Dilema ini membuat jalur kebijakan The Fed menjadi tidak jelas.

Perubahan ekspektasi pasar juga tercermin pada pasar berjangka. Berdasarkan CME FedWatch Tool, sebelumnya pasar sempat optimistis akan ada setidaknya tiga kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini. Namun, peluang pemangkasan pada Juni sempat turun di bawah 50%. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,3%–4,5%, yang dipandang mencerminkan antisipasi inflasi yang masih “lengket”.

Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah pendekatan portofolio dibahas dalam laporan yang sama, termasuk strategi berdasarkan sektor. Sektor energi disebut kerap bergerak searah dengan harga minyak, sehingga dapat menjadi penyeimbang ketika pasar saham lebih luas tertekan oleh suku bunga tinggi. Emas juga disebut sebagai aset lindung nilai dalam kondisi ketegangan geopolitik dan kekhawatiran stagflasi.

Jason Gozali, Head of Research Pluang, menyatakan bahwa selain emas, perak juga dapat mengikuti kenaikan emas. Ia menyebut perak sebagai logam industri yang diuntungkan oleh kelangkaan logam lain, serta menyinggung instrumen iShares Silver Trust (SLV) yang dikelola BlackRock sejak 2006. Dalam pernyataannya, BlackRock disebut memiliki total dana kelolaan US$14 triliun per Januari 2026.

Di sisi lain, saham teknologi dan pertumbuhan dinilai berpotensi menjadi yang paling volatil karena sensitif terhadap pergerakan imbal hasil obligasi. Jika harga minyak mendorong yield naik, valuasi saham teknologi dapat tertekan. Namun, jika pasar tenaga kerja memburuk hingga The Fed terpaksa memangkas suku bunga, sektor ini berpotensi menguat. Pendekatan bertahap seperti dollar cost averaging (DCA) disebut sebagai salah satu cara menghadapi fluktuasi tersebut.

Sektor defensif seperti consumer staples juga disebut cenderung lebih tahan ketika daya beli melemah akibat harga energi yang tinggi, karena produk yang dijual merupakan kebutuhan pokok.

Untuk memantau arah kebijakan dan risiko pasar, tiga indikator dinilai krusial. Pertama, laporan Consumer Price Index (CPI) sebagai ukuran utama inflasi, terutama CPI inti. Kedua, klaim pengangguran mingguan sebagai indikator yang lebih real-time untuk membaca kondisi pasar tenaga kerja. Ketiga, retorika pejabat The Fed, termasuk pidato Ketua The Fed Jerome Powell dan anggota FOMC, terutama jika terjadi pergeseran fokus dari kewaspadaan inflasi ke kewaspadaan pertumbuhan ekonomi.

Dengan tekanan yang datang sekaligus dari energi dan tenaga kerja, pasar menilai 2026 berpotensi diwarnai volatilitas tinggi. Dalam situasi ini, arah suku bunga The Fed tidak hanya ditentukan oleh satu indikator, melainkan oleh keseimbangan rapuh antara inflasi dan pertumbuhan.