Arus investasi asing langsung (FDI) ke Vietnam pada awal tahun ini menunjukkan dinamika yang menonjol di tengah restrukturisasi rantai pasokan global dan pergeseran aliran modal. Dalam dua bulan pertama tahun ini, total modal terdaftar tercatat lebih dari 6 miliar dolar AS. Meski sedikit lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, jumlah proyek baru serta skala modal terdaftar baru meningkat tajam.
Sementara itu, modal FDI yang terealisasi mencapai sekitar 3,2 miliar dolar AS, naik 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perkembangan tersebut dipandang mencerminkan strategi investasi jangka panjang, seiring tren restrukturisasi rantai pasokan global yang kian nyata.
Dengan tujuan membangun International Finance Corporation (VIFC) di Vietnam, arus masuk FDI diharapkan tidak hanya menopang pertumbuhan, tetapi juga membuka peluang pengembangan sektor keuangan bernilai tinggi, khususnya manajemen kas dan administrasi perbendaharaan, dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam wawancara dengan Vietnam News Agency (VNA), Kepala Global Manajemen Kas Standard Chartered Group, Mahesh Kini, menilai peran manajemen keuangan di perusahaan multinasional semakin bergeser menjadi fungsi strategis. Menurutnya, fungsi ini mencakup pengelolaan arus kas, likuiditas, dan risiko keuangan perusahaan, termasuk pemantauan arus kas masuk-keluar, optimalisasi arus kas antarperusahaan dalam satu grup, pengelolaan nilai tukar, lindung nilai risiko valuta asing, serta memastikan kecukupan likuiditas.
Kini menjelaskan, ketika operasi bisnis meluas ke berbagai pasar, kebutuhan koordinasi arus kas dalam skala regional atau global meningkat. Karena itu, banyak perusahaan memilih membangun fungsi perbendaharaan di pusat keuangan regional untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengendalikan risiko.
Di Vietnam, ia melihat tren tersebut mulai tampak seiring perubahan posisi negara itu di mata bisnis global. Vietnam yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pusat manufaktur, kini dinilai semakin terintegrasi dalam strategi ekspansi jangka panjang, antara lain melalui pendekatan “China + 1”. Menurutnya, arus modal yang masuk tidak lagi bersifat sporadis. Seiring investasi yang lebih stabil, perusahaan juga memperluas operasi: meningkatkan produksi, memperbesar penjualan domestik, serta memperkuat aktivitas impor dan ekspor. Perkembangan ini mendorong terbentuknya likuiditas domestik yang terus membesar.
Ia menambahkan, skala likuiditas yang meningkat membuat manajer keuangan di pusat-pusat keuangan seperti Hong Kong (China), Singapura, serta kawasan Eropa dan Amerika Serikat mulai menaruh perhatian pada pengelolaan arus kas di Vietnam, termasuk optimalisasi likuiditas domestik, pengaturan arus kas lintas batas, dan manajemen risiko nilai tukar. Bagi Kini, hal ini menunjukkan Vietnam tidak lagi semata pusat produksi, melainkan mulai menjadi bagian penting dalam rantai pasokan dan keuangan kawasan ASEAN.
Dari sisi infrastruktur keuangan, ia menilai dampaknya “sangat signifikan”, terutama terkait pembayaran. Vietnam disebut mencatat kemajuan pesat dalam digitalisasi pembayaran melalui pengembangan transfer uang real-time, pembayaran kode QR, dan dompet elektronik. Menurutnya, modernisasi ini membuat ekosistem keuangan lebih efisien sekaligus mempercepat waktu pemrosesan transaksi.
Perkembangan tersebut, lanjutnya, mendorong perusahaan—khususnya multinasional—untuk meningkatkan sistem manajemen keuangan internal. Banyak yang beralih ke sistem ERP generasi berikutnya dan menerapkan platform manajemen perbendaharaan global agar dapat terhubung langsung dengan infrastruktur pembayaran di Vietnam. Ia menilai hal ini memperkuat kemampuan pengendalian arus kas secara real-time dan memudahkan integrasi Vietnam ke dalam sistem manajemen keuangan regional maupun global perusahaan.
Dalam konteks ambisi Vietnam membangun pusat keuangan internasional, Kini menyebut sejumlah prasyarat utama untuk menarik pusat perbendaharaan regional. Pertama, kerangka hukum yang jelas dan stabil serta selaras dengan standar internasional, guna membangun kepercayaan investor dan perusahaan multinasional. Kedua, lingkungan hukum yang konsisten dan dapat diprediksi untuk mendukung ekspansi jangka panjang lembaga keuangan internasional.
Selain itu, ia menekankan pentingnya faktor sumber daya manusia. Menurutnya, pusat keuangan yang berkelanjutan membutuhkan tenaga kerja berkualitas tinggi dan kondisi yang mendukung untuk menarik serta mempertahankan talenta internasional. Ia juga menyoroti kebutuhan ekosistem pendukung, termasuk koordinasi efektif antara bank, perusahaan fintech, firma hukum, serta firma penasihat.
Menilai posisi Vietnam saat ini, Kini menyebut momentum pengembangan VIFC dinilai tepat, mengingat pertumbuhan aktivitas bisnis, pergeseran FDI, dan meningkatnya kebutuhan manajemen perbendaharaan yang menciptakan likuiditas serta transaksi dalam skala besar—sebagai syarat penting pembentukan pusat perbendaharaan regional.
Ia juga menilai karakteristik Vietnam sebagai pasar yang teregulasi dapat menjadi keuntungan bila dirancang dengan tepat, karena memungkinkan pembangunan lingkungan internasional dalam kerangka tersebut untuk mendukung aktivitas keuangan lintas batas secara efisien dan aman. Kini turut menyinggung kenaikan peringkat Kota Ho Chi Minh sebesar 11 posisi dalam Indeks Pusat Keuangan Global 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, yang menurutnya mencerminkan meningkatnya kepercayaan diri Vietnam dalam menerapkan model pusat keuangan internasional.
Terkait peran lembaga keuangan internasional, Kini mengatakan institusi global dapat berkontribusi dalam beberapa lapisan, mulai dari fungsi penasihat untuk membantu bisnis memahami model pusat keuangan internasional dan manfaatnya, hingga penyediaan layanan inti seperti manajemen kas, pembayaran, likuiditas, valuta asing, serta solusi lindung nilai risiko.
Ia juga menekankan pentingnya interoperabilitas teknologi, termasuk kemampuan menghubungkan sistem keuangan global perusahaan dengan infrastruktur domestik melalui platform digital atau API untuk mendukung pengelolaan arus kas real-time dan efisiensi operasional. Selain itu, lembaga keuangan global dapat berperan sebagai penghubung antara pasar domestik dan kawasan maupun dunia, guna meningkatkan konektivitas serta mendukung aliran modal yang lebih efisien.

