BERITA TERKINI
Terorisme Modern Tak Hanya soal Ideologi: Perubahan Iklim, Tekanan Lingkungan, dan Ekonomi Global Dinilai Memperbesar Kerentanan

Terorisme Modern Tak Hanya soal Ideologi: Perubahan Iklim, Tekanan Lingkungan, dan Ekonomi Global Dinilai Memperbesar Kerentanan

Terorisme lazim dipahami sebagai penggunaan kekerasan, atau ancaman kekerasan, yang menyasar warga sipil untuk mencapai tujuan politik, ideologis, atau simbolik. Dalam wacana publik dan kebijakan keamanan, terorisme kerap dipersempit menjadi persoalan ideologi ekstrem—terutama yang dikaitkan dengan agama—seolah menjadi pemicu utama radikalisasi dan tindakan kekerasan. Pandangan ini turut menguat karena sebagian kelompok ekstremis secara terbuka menggunakan simbol serta bahasa keagamaan, dan karena representasi media yang menonjolkan dimensi tersebut.

Namun, penekanan berlebihan pada ideologi berisiko menutupi faktor-faktor struktural yang membentuk konteks sosial tempat ideologi ekstrem beroperasi. Sejumlah penelitian mutakhir, sebagaimana dirangkum dalam tulisan ini, menunjukkan bahwa kondisi material—mulai dari kemiskinan dan ketidaksetaraan hingga degradasi lingkungan serta ketidakstabilan ekonomi global—dapat berfungsi sebagai kondisi yang memungkinkan (enabling conditions). Faktor-faktor itu dinilai memperbesar kerentanan individu maupun komunitas terhadap proses radikalisasi.

Dengan kerangka tersebut, analisis terorisme modern dipandang perlu memakai perspektif multidimensi yang tidak menempatkan ideologi sebagai satu-satunya variabel penjelas. Kajian selama dua dekade terakhir memang banyak memusatkan perhatian pada ideologi, khususnya ideologi agama, untuk membaca motif dan dinamika kekerasan ekstrem. Meski relevan dalam konteks tertentu, pendekatan tunggal itu dinilai berisiko menyederhanakan fenomena terorisme yang pada praktiknya bersifat kompleks.

Artikel ini mengajukan tinjauan konseptual dan empiris tentang peran faktor non-ideologis, terutama perubahan iklim, tekanan lingkungan, dan dinamika ekonomi global, dalam menciptakan kondisi sosial yang dinilai kondusif bagi kemunculan dan perkembangan terorisme modern. Pembahasannya menggunakan pendekatan interdisipliner yang memadukan studi keamanan, ekonomi politik, dan ilmu lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, terorisme ditegaskan lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi antara narasi ideologis dan kerentanan struktural. Kesimpulan konseptual ini, menurut artikel, berimplikasi pada perumusan kebijakan kontra-terorisme yang lebih komprehensif dan berorientasi pencegahan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor material yang membentuk kerentanan sosial, selain aspek ideologis.