BERITA TERKINI
Teori Jiang Xueqin: “Reset Amerika” dan Retaknya Tatanan Dunia Pasca Perang Dingin

Teori Jiang Xueqin: “Reset Amerika” dan Retaknya Tatanan Dunia Pasca Perang Dingin

Jika ramalan Jiang Xueqin kelak terbukti—bahwa Amerika Serikat bisa terseret dalam konflik kronis yang memuncak pada perang besar melawan Iran—maka pertanyaan kunci, menurutnya, bukan semata soal siapa menang atau kalah. Yang lebih menentukan justru apa yang terjadi setelahnya.

Jiang tidak membayangkan Amerika akan hancur atau runtuh seperti Uni Soviet. Ia menawarkan gambaran yang lebih halus namun berdampak luas: “reset Amerika”. Dalam pandangannya, kekuatan global tidak benar-benar lenyap, melainkan berpindah, berubah bentuk, dan mengalami pergeseran pusat. Dunia, kata Jiang, bukan sedang menuju kekacauan total, melainkan memasuki fase structural reset—perubahan besar pada cara kekuasaan global diatur.

Untuk menjelaskan gagasannya, Jiang mengajak menengok kembali ke 1991, saat Uni Soviet runtuh. Peristiwa itu melahirkan dunia unipolar dengan Amerika sebagai kekuatan dominan tanpa pesaing sepadan. Dari situ muncul konsep New World Order yang bertumpu pada perdagangan global.

Namun, menurut Jiang, fondasi yang lebih menentukan adalah posisi Amerika sebagai pemegang dolar—mata uang cadangan dunia—yang memberi Washington kekuatan yang lebih subtil: kemampuan menentukan harga. “Pricing” di sini bukan sekadar label harga barang, melainkan kapasitas menentukan nilai berbagai aktivitas ekonomi dunia.

Dari mekanisme itu, Jiang melihat terbentuknya hierarki ekonomi global yang menyerupai piramida. Dalam pembagian kerja global tersebut, Rusia, Afrika, dan Amerika Selatan berperan sebagai penyedia sumber daya; China berkembang sebagai pabrik dunia; Eropa menjadi pusat pengetahuan dan teknologi; sementara Amerika Serikat berada di puncak sebagai pusat keuangan global.

Secara teori, struktur itu tampak ideal: negara-negara menjalankan peran sesuai keunggulan masing-masing, perdagangan tumbuh, dan kemakmuran meningkat. Namun Jiang menilai sistem tersebut menyimpan kerentanan. Ketika sebuah negara terlalu bergantung pada sektor finansial, ekonominya berisiko bergeser menjadi ekonomi spekulatif—uang terutama dipakai untuk menghasilkan uang, bukan untuk produksi barang atau pengembangan teknologi. Ia menggambarkan kondisi itu sebagai perubahan ekonomi menjadi “kasino raksasa”.

Gejala tersebut, menurut Jiang, terlihat jelas pada Krisis Finansial Global 2008 ketika sistem keuangan Amerika nyaris runtuh dan dunia berada di ambang krisis ekonomi besar. Dalam narasinya, ekonomi global saat itu terselamatkan oleh keputusan besar China yang menggelontorkan investasi raksasa untuk proyek infrastruktur—mulai dari bandara, kota baru, rel kereta cepat, hingga pelabuhan skala besar. Langkah itu menjaga permintaan global tetap hidup sehingga ekonomi dunia tidak ikut jatuh.

Namun, investasi masif itu juga membuat China menanggung utang besar. Dari situ, Beijing menyampaikan pesan politik yang sederhana namun tegas: jika China ikut menyelamatkan ekonomi dunia, maka China juga berhak duduk di meja kekuasaan global. China, dalam kerangka ini, ingin menjual teknologi, bersaing di pasar global, dan berdiri sejajar dengan Amerika.

Jiang menilai respons Washington pada dasarnya adalah penolakan. Dari sinilah, menurutnya, lahir perang dagang era Donald Trump yang kemudian meluas menjadi persaingan teknologi, geopolitik, dan ekonomi. Situasi kian kompleks ketika Perang Rusia–Ukraina pecah pada 2022. Dalam perspektif Jiang, konflik itu bukan sekadar sengketa wilayah, melainkan bentuk pemberontakan terhadap hierarki ekonomi global yang terbentuk setelah Perang Dingin.

Di tengah dinamika tersebut, konflik Amerika Serikat dan Iran dipandang Jiang sebagai katalis yang dapat mempercepat proses reset. Serangan militer terhadap fasilitas strategis Iran memicu balasan keras, meningkatkan ketegangan regional, serta mengguncang perdagangan dan energi global. Jalur energi vital seperti Selat Hormuz ikut terancam, sementara pasar energi dunia mengalami gejolak.

Dalam teori Jiang, konflik semacam itu bukan hanya perang regional, melainkan ujian bagi sistem global yang menopang dominasi Amerika—mulai dari stabilitas dolar hingga keamanan jalur energi dunia. Jika perang menguras sumber daya Amerika atau mempercepat lahirnya sistem ekonomi alternatif, maka perang justru dapat berfungsi sebagai mekanisme sejarah yang mempercepat reset global.

Dari titik ini, Jiang melihat gambaran yang lebih besar: sistem global yang lahir setelah Perang Dingin mulai retak. Amerika berupaya mempertahankan tatanan lama—dolar, jaringan finansial global, dan dominasi ekonomi—sementara kekuatan lain seperti China dan Rusia berusaha membangun alternatif. Dalam konteks ini, ia menyinggung kemunculan inisiatif seperti BRICS, jalur perdagangan baru, dan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar.

Jiang juga mengaitkan situasi tersebut dengan teori siklus kekuasaan Ibnu Khaldun. Menurut filsuf sejarah itu, ketika sebuah kekuasaan terlalu lama berada di puncak, ia kerap lupa bahwa sistem yang dibangunnya pun dapat berubah. Kemewahan ekonomi, dominasi finansial, dan rasa tak tergantikan dapat membuat sebuah imperium gagal menangkap perubahan yang tumbuh di pinggiran sistem.

Sejarah, dalam gambaran Jiang, bergerak seperti sungai besar: berubah arah perlahan tanpa suara, hingga suatu hari orang menyadari alirannya sudah tak sama. Di situlah, ia menempatkan gagasan “reset Amerika”—bukan sebagai akhir dari sebuah negara, melainkan sebagai penataan ulang struktur kekuasaan global.