BERITA TERKINI
Tekanan Global Berpotensi Menguji Ekonomi Indonesia, Ini Skenario dan Langkah Antisipasinya

Tekanan Global Berpotensi Menguji Ekonomi Indonesia, Ini Skenario dan Langkah Antisipasinya

Ketidakpastian global dinilai berpotensi menekan perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia. Sejumlah faktor yang membayangi antara lain krisis geopolitik di Timur Tengah, memanasnya kembali perang dagang, inflasi global yang meningkat, serta tren suku bunga dunia yang terus naik.

Dalam sebuah simulasi stress test, digambarkan skenario ketika harga minyak dunia melonjak hingga 120 dollar AS per barel dan nilai tukar rupiah melemah sampai menembus Rp 20.000 per dolar AS. Simulasi ini disebut bukan prediksi, melainkan uji ketahanan untuk mengukur seberapa kuat fondasi ekonomi Indonesia jika beberapa tekanan datang bersamaan.

Dampak pertama yang disorot adalah pada anggaran negara. Selama ini, asumsi harga minyak dalam APBN berada di kisaran 82 dollar AS per barel. Jika harga naik ke 120 dollar AS per barel, selisih sekitar 38 dollar AS per barel berpotensi memicu tekanan fiskal. Secara kasar, tambahan beban subsidi energi diperkirakan bisa meningkat sekitar Rp 150 triliun hingga Rp 300 triliun. Kondisi itu dapat mendorong defisit anggaran, yang biasanya dijaga sekitar 2,5 persen hingga 2,8 persen PDB, mendekati 4 persen PDB.

Lonjakan subsidi energi juga berpotensi memicu efek berantai. Pemerintah bisa terdorong menambah pembiayaan melalui penerbitan utang atau memangkas belanja lainnya untuk menutup kebutuhan anggaran.

Tekanan berikutnya datang dari inflasi. Harga minyak yang tinggi dan pelemahan rupiah akan menaikkan harga barang impor, meningkatkan biaya transportasi, dan ikut mendorong kenaikan harga pangan. Dalam skenario ini, inflasi Indonesia yang umumnya berada di kisaran 3 hingga 4 persen berpotensi naik ke rentang 6 hingga 9 persen, yang pada akhirnya membebani daya beli masyarakat.

Dalam konteks teori ekonomi, Milton Friedman dalam buku Inflation and Monetary Framework (1974) menjelaskan inflasi kerap dipicu tekanan biaya dan ekspansi moneter yang mengikuti guncangan ekonomi. Ketika inflasi meningkat, kenaikan suku bunga biasanya menjadi konsekuensi. Bank sentral dinilai memiliki ruang gerak terbatas saat stabilitas harga terganggu.

Jika suku bunga acuan berada di sekitar 4,75 persen, skenario tekanan dapat mendorongnya naik ke kisaran 6,5 hingga 7,5 persen, atau meningkat sekitar 150 hingga 300 basis poin. Suku bunga yang lebih tinggi akan menaikkan biaya pinjaman, sehingga dunia usaha cenderung menahan ekspansi dan menunda investasi.

Efeknya, pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat. Dari kondisi normal sekitar 5,3 persen, pertumbuhan dapat turun ke kisaran 3 hingga 4 persen. John Maynard Keynes dalam The General Theory of Employment, Interest and Money (1936) menekankan ketidakpastian ekonomi dapat menghambat investasi dan melemahkan permintaan agregat, yang berujung pada perlambatan.

Dari sisi eksternal, tekanan dapat muncul karena membengkaknya impor energi ketika harga minyak naik dan rupiah melemah. Indonesia selama beberapa tahun terakhir menikmati surplus perdagangan sekitar 30 miliar hingga 40 miliar dollar AS per tahun, yang menjadi bantalan bagi stabilitas rupiah. Namun, jika impor energi meningkat tajam, surplus tersebut dapat menyusut cepat.

Dalam skenario terburuk, defisit transaksi berjalan disebut bisa melebar hingga lebih dari 2 persen PDB, yang berpotensi memicu kekhawatiran investor global. Pasar keuangan pun diperkirakan merespons cepat. Jika rupiah benar-benar menembus Rp 20.000 per dolar AS, arus keluar modal dinilai hampir pasti terjadi. Dampaknya, yield obligasi pemerintah berpotensi naik dan membebani pembiayaan APBN, sementara pasar saham cenderung tertekan oleh sentimen global.

Sektor perbankan juga berisiko terdampak. Kenaikan suku bunga akan meningkatkan biaya dana bank. Di saat yang sama, perusahaan dengan utang dalam dolar AS menghadapi tekanan tambahan. Pelemahan rupiah dari Rp 16.000 ke Rp 20.000 per dolar AS berarti depresiasi lebih dari 25 persen, sehingga nilai utang dolar dalam rupiah meningkat dan membebani keuangan perusahaan.

Dalam kondisi tersebut, bank berpotensi perlu menyiapkan cadangan yang lebih besar karena risiko kredit bermasalah meningkat seiring tekanan pada dunia usaha. Situasi ini juga dapat memperketat pasar uang dan menekan likuiditas karena lembaga keuangan menjadi lebih berhati-hati menyalurkan kredit.

Meski demikian, terdapat sejumlah bantalan yang disebut dapat memperkuat ketahanan ekonomi. Cadangan devisa Indonesia masih berada di kisaran 130 miliar hingga 140 miliar dollar AS, cukup untuk membiayai impor lebih dari enam bulan. Kondisi ini memberi ruang bagi bank sentral untuk menstabilkan pasar valuta asing, termasuk melalui intervensi sekitar 10 miliar hingga 15 miliar dollar AS untuk meredam volatilitas kurs, sebagaimana pernah dilakukan pada periode tekanan sebelumnya.

Di sisi fiskal, pemerintah dapat menata ulang subsidi energi dan mengalihkan sebagian subsidi menjadi bantuan langsung kepada kelompok rentan. Pendekatan ini disebut berpotensi menghemat puluhan triliun rupiah. Pemerintah juga dinilai perlu menjaga defisit tetap di bawah 3 persen PDB agar kepercayaan investor tidak terganggu.

Diversifikasi ekspor juga dipandang menjadi bantalan penting. Komoditas seperti nikel, batu bara, dan kelapa sawit disebut masih menghasilkan devisa puluhan miliar dolar AS per tahun, sehingga dapat membantu menutup tekanan dari impor energi yang mahal.

Simulasi stress test tersebut menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi kombinasi guncangan geopolitik dan finansial. Kuncinya, kebijakan yang disiplin untuk menjaga indikator ekonomi tetap terkendali dinilai lebih dibutuhkan dibanding respons yang bersifat panik.