BERITA TERKINI
Tanker Indonesia Tertahan di Selat Hormuz, Malaysia dan Thailand Lebih Cepat Dapat Izin Melintas

Tanker Indonesia Tertahan di Selat Hormuz, Malaysia dan Thailand Lebih Cepat Dapat Izin Melintas

Ketegangan di kawasan Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 membuat jalur pelayaran energi global menjadi lebih rumit. Di tengah situasi itu, kapal-kapal dari sejumlah negara dilaporkan dapat melintas setelah melakukan koordinasi dengan Iran. Namun, dua kapal tanker Indonesia—Pertamina Pride dan Gamsunoro—masih tertahan hingga akhir Maret, ketika Malaysia dan Thailand disebut lebih dulu memperoleh izin melintas.

Eskalasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 berdampak pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Penurunan aktivitas pelayaran dan banyaknya kapal yang tertahan memaksa negara-negara pengguna jalur tersebut untuk bergerak cepat mengamankan akses.

Iran tidak menutup Selat Hormuz sepenuhnya, tetapi menerapkan akses yang bersifat selektif. Sejumlah negara seperti China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Bangladesh disebut termasuk pihak yang diizinkan melintas setelah koordinasi, dengan alasan sebagai negara yang “tidak bermusuhan”. Dalam perkembangan tersebut, Malaysia dan Thailand juga dilaporkan berhasil memperoleh izin, sementara Indonesia belum.

Keterlambatan ini dinilai berdampak pada aspek ketahanan energi. Minyak mentah dari Timur Tengah disebut menyumbang sekitar 19 persen impor nasional Indonesia. Karena itu, tertahannya kapal pengangkut minyak tidak hanya berimplikasi pada logistik, tetapi juga berpotensi memengaruhi rantai pasok energi.

Thailand disebut mengambil langkah cepat melalui jalur diplomatik langsung. Menteri Luar Negeri Thailand dilaporkan menghubungi Duta Besar Iran, dan kapal tanker milik Bangchak Corporation dapat melintas pada 23 Maret. Malaysia juga disebut memanfaatkan kedekatan hubungan dengan Teheran, sehingga proses perizinan melintas dapat berlangsung lebih cepat.

Dari pihak Indonesia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan negosiasi sudah dilakukan sejak 4 Maret. Namun, hingga berminggu-minggu berikutnya, izin melintas bagi kapal tanker Indonesia belum terlihat.

Situasi ini kemudian direspons dengan langkah diplomasi yang lebih intensif. Presiden Prabowo Subianto pada 27 Maret 2026 melakukan tiga pertemuan dalam satu hari: bertemu pejabat tinggi keamanan China, bertemu Ray Dalio, serta bertemu Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Rangkaian pertemuan itu dipandang sebagai upaya membuka berbagai jalur komunikasi dan memperkuat koordinasi, termasuk melalui mitra yang memiliki akses ke Teheran.

Langkah tersebut dilaporkan membuahkan hasil setelah Iran merespons positif dan kapal tanker Indonesia akhirnya memperoleh izin melintas. Meski demikian, proses itu terjadi setelah beberapa negara lain lebih dulu keluar dari situasi penahanan kapal.

Perkembangan di Selat Hormuz ini menjadi ujian nyata bagi pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang selama ini dikenal dengan prinsip bebas aktif. Dalam kondisi krisis yang bergerak cepat, posisi netral dinilai tidak selalu cukup tanpa kecepatan membaca situasi, kekuatan jejaring diplomatik, serta langkah taktis untuk menjaga kepentingan nasional, termasuk keamanan pasokan energi.