Pemerintah Filipina berencana memulai pembicaraan diplomatik dengan Iran untuk memastikan kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Rencana ini disampaikan juru bicara Presiden Filipina, Claire Castro, sebagaimana dikutip kantor berita PNA.
Menurut Castro, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menginstruksikan Kementerian Luar Negeri Filipina untuk memimpin upaya menjaga keamanan pasokan energi negara tersebut.
Castro mengatakan Presiden telah mengarahkan Menteri Luar Negeri Tess Lazaro untuk melakukan komunikasi dengan pihak Iran. Ia menyebut Lazaro akan berbicara dengan Duta Besar Iran, kemungkinan pada Rabu atau pada pekan berikutnya.
Langkah diplomatik ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan. Pada akhir Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair ke pasar global. Kondisi itu berdampak pada ekspor dan produksi energi serta mendorong kenaikan harga.

