BERITA TERKINI
Talkshow di Politeknik STIA LAN Jakarta Soroti Penguatan Kepemimpinan Perempuan dan Diplomasi Global

Talkshow di Politeknik STIA LAN Jakarta Soroti Penguatan Kepemimpinan Perempuan dan Diplomasi Global

Jakarta, 5 Mei 2026—Pusat Studi Gender dan Kepemimpinan Birokrasi (PSGKB) Politeknik STIA LAN Jakarta menggelar talkshow bertajuk “Women Leadership and Diplomacy: Strengthening Women’s Role in Public Leadership and Global Engagement”. Kegiatan ini digelar sebagai upaya mendorong penguatan peran perempuan dalam kepemimpinan publik serta keterlibatan aktif dalam dinamika global.

Talkshow menghadirkan empat narasumber dengan pengalaman di bidang diplomasi dan hubungan internasional, yakni Nana Yuliana, Ratu Silvy Gayatri, Dian Wirengjurit, serta Acep Sumantri. Diskusi dipandu moderator Aulia Rahmawati dan diikuti sedikitnya 300 peserta dari kementerian/lembaga, perguruan tinggi, NGO, pemerintah provinsi/kota/kabupaten, serta undangan lainnya. Acara dilaksanakan secara daring dan luring.

Ketua PSGKB, Dr. Hidayaturahmi, MPA, menyampaikan bahwa talkshow ini merupakan bagian dari komitmen Politeknik STIA LAN Jakarta untuk mendukung penguatan peran perempuan di sektor publik. Ia menekankan isu kepemimpinan perempuan tidak hanya terkait agenda kesetaraan, tetapi juga kebutuhan strategis untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Menurutnya, perempuan memiliki potensi besar menghadirkan kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi. Ia juga berharap forum ini menjadi ruang pertukaran gagasan, pengalaman, dan praktik baik dari para narasumber yang dapat menginspirasi peserta, terutama generasi muda, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem yang mendukung perempuan dalam mengembangkan kapasitas dan mengambil peran kepemimpinan.

Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof. Dr. R. Luki Karunia, MA, saat membuka acara memperkenalkan PSGKB sebagai pusat studi yang bernaung langsung di bawah Lembaga Administrasi Negara dan mengedepankan isu gender serta kepemimpinan birokrasi. Ia menyampaikan PSGKB dibentuk untuk mendorong riset mendalam dan aksi nyata dalam membangun sumber daya manusia yang inklusif, sekaligus menjadi wadah kolaborasi yang menghubungkan unsur negara, privat, dan masyarakat.

Luki Karunia menjelaskan bahwa melalui PSGKB, pihaknya merangkul berbagai pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi negeri dan swasta, kementerian/lembaga, think tank, NGO, CSO, hingga industri, untuk mencetak pemimpin birokrasi masa depan yang sensitif terhadap kesetaraan gender. Ia juga menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari komitmen institusinya dalam mendukung Asta Cita Prabowo-Gibran, dengan fokus pada penguatan kesetaraan gender dan pengembangan kepemimpinan SDM yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Kepala Lembaga Administrasi Negara, Dr. Muhammad Taufik, DEA, dalam keynote speech mengangkat kisah Raden Ajeng Kartini sebagai contoh bahwa diplomasi tidak selalu hadir dalam bentuk formal. Menurutnya, surat-surat Kartini menunjukkan diplomasi gagasan, diplomasi nilai, dan diplomasi kemanusiaan yang melintasi batas geografis dan budaya.

Taufik menekankan bahwa diplomasi masa kini tidak hanya berkaitan dengan negosiasi antarnegara, melainkan juga membangun kepercayaan di tengah ketidakpastian global. Dalam konteks itu, ia menyebut kepemimpinan perempuan semakin relevan, seraya menggarisbawahi tiga fondasi diplomasi modern yang ia kaitkan dengan pelajaran dari Kartini: voice (keberanian menyuarakan gagasan), empathy (memahami manusia, bukan hanya kepentingan), dan bridge-building (menjembatani dunia lokal dan global).

Dalam sesi pemaparan, Acep Somantri, Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Manajemen, menjelaskan kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kementerian Luar Negeri yang diatur dalam Peraturan Menteri Luar Negeri Nomor 21 Tahun 2020 tentang pedoman PUG di lingkungan kementerian tersebut. Ia menyampaikan PUG merupakan strategi untuk mengintegrasikan gender sebagai dimensi integral dalam perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan, program, serta kegiatan hubungan luar negeri.

Acep juga memaparkan sejumlah arah kebijakan responsif gender, antara lain mendorong kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan melalui perekrutan, pelatihan, serta manajemen talenta SDM; memfasilitasi kebutuhan keluarga; menyediakan fasilitas yang mendukung hak-hak perempuan, kesehatan ibu dan anak, serta lingkungan kerja yang aman dari pelecehan seksual; dan melakukan penelitian untuk menjawab kebutuhan laki-laki dan perempuan di lingkungan Kementerian Luar Negeri.

Nana Yuliana, dosen Politeknik STIA LAN Jakarta, dalam pemaparan bertajuk “Memperkuat Peran Perempuan dalam Diplomasi Indonesia” menyoroti pengalaman diplomatiknya saat bertugas di Kuba. Ia menilai perempuan memiliki kekuatan dalam membangun pendekatan diplomasi yang lebih humanis dan inklusif, termasuk melalui komunikasi interpersonal yang kuat untuk menjalin hubungan bilateral yang konstruktif. Ia juga mendorong perempuan untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan berani mengambil peluang di ranah global.

Nana menambahkan pentingnya kebijakan afirmatif guna meningkatkan keterwakilan perempuan dalam kepemimpinan publik. Menurutnya, kesenjangan akses masih terjadi, baik dalam jabatan strategis maupun proses pengambilan keputusan. Ia menekankan penguatan peran perempuan perlu didukung sistem yang inklusif, termasuk regulasi yang memberi ruang lebih luas bagi perempuan untuk tampil sebagai pemimpin, serta mentoring dan pengembangan karier berbasis kesetaraan gender.

Ratu Silvy Gayatri menyoroti pentingnya pendidikan, penguasaan bahasa asing, dan jejaring internasional sebagai modal utama perempuan untuk berkiprah di dunia diplomasi. Ia juga menyampaikan bahwa praktik baik dari negara-negara maju dalam mendorong kesetaraan gender dapat menjadi referensi bagi Indonesia untuk memperluas peran perempuan di sektor publik.

Dian Wirengjurit menekankan perlunya ketangguhan dan daya adaptasi tinggi dalam menghadapi kompleksitas hubungan internasional. Ia menggarisbawahi pentingnya integritas, profesionalisme, dan kemampuan negosiasi dalam menjalankan peran diplomat. Dian juga membagikan pengalamannya terkait tantangan perempuan menembus struktur birokrasi yang masih didominasi laki-laki, seraya menekankan perubahan membutuhkan ketekunan, konsistensi, dan dukungan kelembagaan.

Diskusi berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang melibatkan peserta, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan akademisi. Pertanyaan dan tanggapan yang muncul mencerminkan tingginya minat generasi muda terhadap isu kepemimpinan perempuan dan diplomasi global.

Melalui kegiatan ini, PSGKB Politeknik STIA LAN Jakarta menyatakan harapannya untuk memperkuat kesadaran tentang pentingnya peran perempuan dalam pembangunan nasional dan hubungan internasional. Talkshow tersebut juga diharapkan mendorong lahirnya pemimpin perempuan yang kompeten, berdaya saing global, dan membawa perspektif inklusif dalam proses pengambilan kebijakan.