BERITA TERKINI
Survei OJK: Perbankan Diproyeksikan Tetap Solid pada Triwulan I 2026, Meski Tekanan Global Membayangi

Survei OJK: Perbankan Diproyeksikan Tetap Solid pada Triwulan I 2026, Meski Tekanan Global Membayangi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kinerja perbankan pada triwulan I 2026 diperkirakan tetap solid dengan risiko yang terjaga. Proyeksi ini merujuk pada hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I 2026 yang dilakukan pada Januari 2026 dengan melibatkan 93 bank responden, mewakili 94,17 persen dari total aset bank umum berdasarkan data Desember 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan keyakinan tersebut tercermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) triwulan I 2026 yang berada pada level 56 atau masuk zona optimis. Optimisme ini didorong proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan serta keyakinan bahwa bank masih cukup mampu mengelola risiko di tengah ekspektasi meningkatnya inflasi dan pelemahan nilai tukar.

Di sisi lain, Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) pada triwulan I 2026 tercatat 45, masuk zona pesimis. Penurunan indeks ini dipengaruhi prediksi melemahnya nilai tukar dan meningkatnya laju inflasi. OJK mencatat keyakinan inflasi yang meningkat dipengaruhi faktor musiman, seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan perayaan Tahun Baru Imlek yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

Selain faktor musiman, terdapat pula efek basis rendah (low based effect) dibanding tahun sebelumnya, ketika diskon tarif listrik sempat berlaku namun tidak kembali diterapkan pada triwulan I 2026. Sementara itu, nilai tukar diperkirakan melemah seiring masih tingginya tensi geopolitik global. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan terakselerasi dengan dukungan perkiraan peningkatan konsumsi masyarakat pada triwulan I 2026.

Mayoritas responden survei menilai risiko perbankan pada triwulan I 2026 tetap terjaga dan terkendali. Hal ini tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 yang berada di zona optimis. Keyakinan tersebut ditopang pandangan bahwa kualitas kredit tetap terjaga, serta Posisi Devisa Netto (PDN) berada pada level rendah dengan aset dan tagihan valuta asing yang lebih besar dibanding kewajiban valuta asing (long position).

Dari sisi likuiditas, risiko juga diperkirakan tetap terjaga seiring ekspektasi alat likuid perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang masih tumbuh. Karena perkiraan pertumbuhan DPK lebih tinggi dibanding penyaluran kredit, net cashflow pada triwulan I 2026 diproyeksikan meningkat. Cash inflow juga diperkirakan bertambah seiring adanya dana pemerintah daerah yang mulai masuk pada periode tersebut.

Ekspektasi kinerja perbankan pada triwulan I 2026 turut berada pada level optimis, tercermin dari Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) sebesar 67. Optimisme ini didorong perkiraan kredit tetap tumbuh seiring meningkatnya permintaan, serta dukungan upaya ekspansi kredit oleh bank melalui pipeline yang tersedia.

OJK mencatat industri pengolahan menjadi sektor ekonomi yang paling mendominasi penyaluran kredit perbankan. Pada Januari 2026, kredit ke sektor ini tumbuh 6,60 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan diproyeksikan tetap menjadi penggerak pertumbuhan kredit ke depan. Dari sisi penghimpunan dana, responden memperkirakan DPK pada triwulan I 2026 juga tumbuh sejalan dengan upaya bank memperoleh sumber dana untuk mendukung pertumbuhan kredit sekaligus menjaga likuiditas.

Dian juga menyoroti kekhawatiran responden terhadap kondisi global yang dinilai berpotensi berlangsung lama dan bahkan memburuk, serta dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Ia menyatakan bahwa meskipun berbagai indikator perbankan saat ini berada dalam posisi yang resilien, sektor perbankan tetap membutuhkan ekosistem bisnis yang dinamis agar dapat tumbuh dengan baik.

Dalam SBPO periode ini, OJK turut menghimpun pandangan responden mengenai outlook ekonomi global dan Indonesia pada 2026, serta prospek pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ekonomi global diperkirakan tumbuh moderat di tengah tingginya ketidakpastian dan dinamika geopolitik.

OJK juga mencatat perkembangan tensi geopolitik yang meningkat seiring eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Teheran. Dampaknya disebut telah terasa pada pasar saham di Asia yang mengalami penurunan akibat aksi panic-selling, di tengah kekhawatiran konflik memicu inflasi dan menekan ekonomi global. Dampak yang lebih luas terhadap perekonomian global dan domestik dinilai mungkin terjadi apabila perang berlangsung lama.

Menurut Dian, pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya dapat menjadi pelajaran untuk memperkuat reformasi di seluruh sektor perekonomian. Ia menekankan perlunya perumusan kebijakan ekonomi yang terpadu dan selaras guna mendorong kinerja yang lebih baik dan berkelanjutan, sehingga ekonomi Indonesia menjadi lebih dinamis dan berdaya saing.

Sementara itu, ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap solid dengan dukungan stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif. Pertumbuhan domestik juga dinilai masih ditopang konsumsi rumah tangga dan manufaktur sebagai motor utama. Selain itu, sebagian besar bank responden optimistis kredit UMKM pada triwulan I 2026 akan tumbuh dengan porsi yang meningkat dibandingkan total kredit.

SBPO merupakan survei triwulanan yang dilakukan OJK untuk memperoleh gambaran dari industri perbankan mengenai arah perekonomian, persepsi terhadap risiko perbankan, serta kecenderungan bisnis perbankan pada triwulan mendatang. Survei ini menghasilkan Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) dengan rentang nilai 1 hingga 100, di mana nilai di atas 50 menunjukkan persepsi optimis, nilai 50 stabil, dan di bawah 50 pesimis. IBP tersusun dari tiga subindeks, yakni IKM, IPR, dan IEK, serta memuat informasi lain terkait isu yang tengah menjadi perhatian di industri perbankan dan hal-hal yang berpotensi memengaruhi kinerja perbankan.