Sebuah supertanker raksasa milik Iran dilaporkan berhasil melewati blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz dengan membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah, yang nilainya disebut hampir 220 juta dolar AS.
Kapal berjenis Very Large Crude Carrier (VLCC) itu diidentifikasi sebagai “HUGE” oleh TankerTrackers.com. Mengutip laporan Al Jazeera pada Minggu (3/5/2026), kapal tersebut disebut telah mencapai kawasan Asia Pasifik.
Berdasarkan pelacakan, posisi terakhir kapal terdeteksi di lepas pantai Sri Lanka sebelum bergerak menuju perairan Indonesia. Kapal itu dilaporkan melintasi Selat Lombok dan bergerak ke arah Kepulauan Riau.
Kasus ini menjadi sorotan karena kapal tersebut “menghilang” dari radar sejak 20 Maret setelah mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS), taktik yang kerap digunakan untuk menghindari pemantauan. Pada 13 April, kapal itu masih berada di perairan Iran, bertepatan dengan pengumuman resmi blokade oleh Angkatan Laut AS.
Laporan mengenai pergerakan kapal ini muncul di tengah klaim Washington bahwa blokade telah memaksa sekitar 41 kapal terkait Iran untuk berbalik arah, sekaligus menekan ekspor minyak Teheran hingga miliaran dolar. Sementara itu, media pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 52 kapal mereka berhasil lolos dari blokade tersebut.
Perkembangan ini menambah kompleksitas situasi energi global, khususnya di jalur strategis seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Di sisi lain, Irak dilaporkan mulai mencari alternatif jalur distribusi. Sebanyak 70 truk tanker minyak mentah disebut melintasi perbatasan al-Yarubiyah menuju Suriah, yang menjadi pengiriman pertama dalam 14 tahun.
Menurut kantor berita pemerintah Suriah, konvoi tersebut diarahkan ke kilang Baniyas di pesisir Mediterania. Pejabat perbatasan Suriah, Feras Rustum, menyebut pembukaan kembali jalur itu sebagai awal “kemitraan jangka panjang” antara Irak dan Suriah. Jalur tersebut sebelumnya ditutup sejak pecahnya perang saudara pada 2011 dan sempat dikuasai ISIS pada 2014.
Dengan meningkatnya risiko pada jalur laut, manuver Iran dan Irak ini menunjukkan bahwa perebutan dan pengamanan jalur energi kian terkait erat dengan dinamika geopolitik yang terus berkembang.