Sucor Sekuritas menyalurkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bagi masyarakat terdampak banjir di SMK Negeri 1 Baktiya Barat, Kabupaten Aceh Utara, pada 8–10 April 2026. Kegiatan ini dilakukan di tengah dinamika ekonomi dan pasar modal, yang menurut perusahaan perlu diimbangi dengan kepedulian sosial serta dukungan pemulihan bagi wilayah terdampak bencana.
Banjir yang melanda Aceh Utara beberapa waktu lalu dilaporkan menyebabkan kerusakan cukup besar, termasuk pada fasilitas pendidikan di SMK Negeri 1 Baktiya Barat. Sejumlah ruang kelas mengalami kerusakan, meja dan kursi hanyut atau tidak dapat digunakan, serta berbagai peralatan pembelajaran turut terdampak.
Dalam program tersebut, Sucor Sekuritas memberikan bantuan berupa sembako, seragam sekolah, seragam guru, serta tas sekolah untuk siswa dan tenaga pengajar. Program CSR ini mengusung tema “Menguatkan Hari Ini, Menumbuhkan Hari Esok”, yang disebut mencerminkan komitmen perusahaan untuk membantu masyarakat bangkit kembali dan membangun masa depan yang lebih baik.
CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya mengatakan kepedulian sosial merupakan bagian penting dari nilai yang dipegang perusahaan. “Kami bersyukur Sucor Sekuritas dapat hadir di Aceh Utara melalui program CSR di bulan Ramadan ini. Di tengah pertumbuhan bisnis yang cukup baik dalam beberapa tahun terakhir, kita juga melihat berbagai tantangan ekonomi global dan bencana yang terjadi di beberapa daerah, termasuk banjir di Aceh,” ujar Bernadus, Rabu (11/3/2026).
Bernadus menyebut pihaknya ingin berbagi sekaligus mengajak investor dan trader di Indonesia untuk tidak hanya melihat pertumbuhan dari sisi investasi, tetapi juga peduli pada kondisi sosial di sekitar. Ia berharap kegiatan tersebut dapat membantu masyarakat terdampak dan menjadi pengingat untuk saling berbagi.
Di sisi lain, Bernadus menilai investor perlu menyikapi pasar secara rasional di tengah ketidakpastian global. Ia menyinggung konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, penurunan outlook Indonesia oleh beberapa lembaga internasional, serta masih dibekukannya penambahan konstituen baru oleh MSCI dan FTSE.
Menurutnya, ruang penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan semakin terbatas dengan area support di kisaran 7.239 hingga 7.000. Ia menyatakan koreksi yang terjadi dapat menjadi peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham dengan fundamental yang kuat.
Optimisme tersebut, lanjut Bernadus, turut didukung oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat yang menyampaikan bahwa konflik diperkirakan tidak akan berlangsung lama, serta langkah reformasi yang telah dilakukan Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk memenuhi standar MSCI. Ia juga menilai fundamental makroekonomi Indonesia yang tetap solid menjadi faktor pendukung prospek pasar modal ke depan.

