Peneliti memperingatkan krisis iklim dapat memicu keruntuhan finansial global seiring kenaikan suhu Bumi melampaui 2 derajat Celsius. Peringatan ini muncul di tengah penilaian bahwa pemerintah dan investor masih mengandalkan model ekonomi yang terlalu optimistis dalam memperhitungkan dampak perubahan iklim.
Analisis terbaru menyebutkan, kerusakan iklim pada dunia yang semakin panas lebih mungkin terjadi melalui cuaca ekstrem, gangguan yang merembet, serta titik-titik kritis, alih-alih lewat perubahan yang lambat dan dianggap bisa dikelola terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurut para peneliti, risiko-risiko tersebut sebagian besar tidak tercakup dalam perangkat yang selama ini digunakan untuk memandu kebijakan publik maupun keputusan investasi.
Studi ini dipimpin Universitas Exeter, Inggris, dan bekerja sama dengan lembaga think tank Carbon Tracker. Penelitian tersebut didasarkan pada masukan lebih dari 60 ilmuwan iklim di 12 negara.
Dalam temuannya, peneliti menyimpulkan bahwa ketika kenaikan suhu melampaui 2 derajat Celsius, kerusakan iklim berpotensi menjadi struktural dan berlipat ganda. Kondisi itu dapat mengganggu berbagai sektor sekaligus dan mengancam prasyarat yang dibutuhkan bagi pertumbuhan ekonomi.
Ambang 2 derajat Celsius dalam Perjanjian Paris merujuk pada kenaikan suhu dibandingkan masa praindustri. Para ilmuwan menilai tingkat pemanasan tersebut akan secara tajam meningkatkan risiko cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem yang tidak dapat dipulihkan, serta gangguan ekonomi.
“Jika suhu Bumi naik lebih dari 2 derajat C, kita tidak lagi berurusan dengan penyesuaian ekonomi yang bisa dikelola,” kata Jesse Abrams, penulis utama laporan.
Abrams menambahkan, ilmuwan iklim yang disurvei menilai model ekonomi yang digunakan saat ini secara sistematis meremehkan besarnya kerusakan iklim. Alasannya, model tersebut dinilai tidak mampu menangkap faktor yang paling krusial, seperti kegagalan beruntun, efek ambang batas, dan guncangan berlipat ganda yang membentuk risiko iklim di dunia yang lebih panas.
Laporan itu juga menyoroti keterbatasan ukuran yang lazim dipakai, seperti Produk Domestik Bruto (PDB), dalam menggambarkan biaya nyata dari kerusakan iklim. PDB dapat meningkat setelah bencana karena adanya pengeluaran rekonstruksi, meski pada saat yang sama terjadi peningkatan angka kematian, gangguan kesehatan, ketimpangan, hilangnya ekosistem, dan kekacauan sosial. Kondisi ini dinilai berisiko membuat pembuat kebijakan dan investor terjebak pada rasa ketangguhan yang semu.
Pendiri sekaligus kepala eksekutif Carbon Tracker, Mark Campanale, menyatakan pemodelan yang keliru dapat mendorong sikap puas diri serta membuat risiko iklim diremehkan. Karena itu, laporan tersebut mendorong regulator dan bank sentral untuk memprioritaskan perlindungan sistem keuangan dari dampak yang dapat mendestabilisasi, alih-alih mengejar prediksi yang presisi.
Secara khusus, laporan menyerukan penekanan yang lebih besar pada skenario ekstrem, risiko yang berlipat ganda, serta kerentanan sistemik dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan investasi.

