BERITA TERKINI
Strategi Adaro dan Vale Indonesia Menyiasati Transisi Energi dan Fluktuasi Harga Komoditas

Strategi Adaro dan Vale Indonesia Menyiasati Transisi Energi dan Fluktuasi Harga Komoditas

JAKARTA — Di tengah tekanan global terhadap energi fosil dan volatilitas harga komoditas, PT Adaro Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menempuh strategi berbeda untuk menjaga keberlanjutan usaha dan daya saing jangka panjang. Tantangan yang dihadapi datang dari berbagai arah, mulai dari transisi energi global, tekanan harga akibat oversupply nikel, hingga dinamika regulasi lintas kementerian.

Presiden Direktur ADRO, Priyadi, mengatakan industri batu bara saat ini menghadapi tekanan struktural dari tren global pengurangan penggunaan energi fosil. Menurutnya, tekanan tersebut berpotensi menurunkan permintaan, sementara kapasitas pasokan di sisi hulu relatif tidak banyak berubah, sehingga menciptakan tantangan ganda bagi pelaku industri.

“Untuk tantangan industri batu bara saat ini, terutama ya tekanan global penggunaan energi fosil, ini juga akan berpotensi untuk menurunkan penggunaan batu bara sedangkan suppliernya masih sama gitu ya,” ujar Priyadi saat kegiatan Indonesia Weekend Miner di kawasan GBK, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Selain tekanan eksternal, Priyadi menilai tantangan juga muncul dari sisi regulasi domestik yang dinamis. Ia menyebut aturan tidak hanya datang dari sektor energi dan sumber daya mineral, tetapi juga kementerian lain seperti keuangan dan kehutanan.

“Dan keduanya juga peraturan-peraturan pemerintah yang dinamis, tidak hanya dari Kementerian ESDM sendiri, tapi juga dari departemen-departemen yang lain, baik keuangan maupun kehutanan dan lainnya,” paparnya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Adaro memilih memperkuat perencanaan tambang sebagai fondasi strategi bertahan. Fokus diarahkan pada pengendalian stripping ratio serta efisiensi sistem angkut agar operasi berjalan stabil dan tidak fluktuatif. Menurut Priyadi, konsistensi operasional penting untuk menjaga struktur biaya, ketahanan cadangan perusahaan, dan dampaknya terhadap cadangan nasional.

“Strategi yang kita lakukan adalah perencanaan tambang yang baik, terutama aspek stripping ratio dan cara angkut. Ini kita buat sekonsisten mungkin supaya operasi tidak fluktuatif. Dampaknya bukan hanya ke kinerja perusahaan, tetapi juga terhadap cadangan perusahaan dan cadangan nasional secara keseluruhan,” kata Priyadi.

Sementara itu, Vale Indonesia menghadapi tantangan berbeda di tengah turunnya harga nikel dunia akibat kondisi oversupply. Presiden Direktur Vale Indonesia, Bernadus Irmanto, menekankan bahwa keberlanjutan tidak diposisikan semata sebagai isu lingkungan, melainkan bagian dari strategi finansial untuk menjaga penciptaan nilai jangka panjang.

“Sebetulnya sustainability itu juga merupakan konsep financial. Jadi it is financial terminology as much as it is environmental terminology. Jadi kalau kita dalam tanda kutip ingin menghasilkan nilai tambah dalam jangka panjang,” ucap Bernadus.

Dengan pendekatan yang berbeda, kedua perusahaan menggambarkan upaya industri pertambangan dalam merespons perubahan global dan dinamika pasar komoditas, sekaligus menyesuaikan diri dengan tuntutan kebijakan yang terus berkembang.