Jakarta — Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia Bersatu (SPPI Bersatu) meminta seluruh pekerja pelabuhan di lingkungan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) tetap bekerja efektif, kompak, dan profesional di tengah dinamika konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi rantai pasok internasional.
Ketua Umum SPPI Bersatu, Dodi, juga mengingatkan pekerja pelabuhan untuk tetap siaga dan bekerja sungguh-sungguh dalam melayani masyarakat pada masa arus mudik Lebaran tahun ini.
“Kami mengajak seluruh pekerja pelabuhan untuk tetap siaga dan bekerja secara profesional dalam menyukseskan pelayanan arus mudik Lebaran di berbagai pelabuhan di Indonesia. Kelancaran mobilitas masyarakat dan distribusi logistik nasional menjadi tanggung jawab bersama,” kata Dodi dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Dodi menilai kewaspadaan perlu ditingkatkan karena peperangan dapat berdampak pada stabilitas rantai pasok internasional dan aktivitas logistik nasional. Ia menyebut ketegangan di kawasan Timur Tengah berimbas pada aktivitas jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, yang kemudian memicu kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya biaya operasional perusahaan pelayaran internasional.
Menurutnya, situasi tersebut dapat berdampak tidak langsung terhadap operasional pelabuhan di Indonesia, terutama pada aktivitas bongkar muat di terminal yang melayani perdagangan internasional.
“Kondisi ini dapat memengaruhi arus perdagangan internasional serta aktivitas pelabuhan yang melayani impor dan ekspor,” ujar Dodi.
Ia menambahkan, sejumlah perusahaan pelayaran internasional mulai melakukan penyesuaian rute di kawasan Timur Tengah. Perubahan rute ini dinilai berpotensi menimbulkan keterlambatan kedatangan kapal dan meningkatkan kepadatan di sejumlah pelabuhan internasional, termasuk pelabuhan yang dikelola Pelindo.
“Karena itu, efisiensi operasional pelabuhan menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran arus logistik dan mempertahankan daya saing ekonomi nasional,” katanya.
Meski perdagangan domestik disebut relatif stabil, Dodi menekankan dampak tidak langsung konflik global terhadap harga energi, inflasi, dan rantai pasok internasional tetap perlu diantisipasi.
“Gangguan pada rantai pasok global dapat mempengaruhi lalu lintas kontainer serta efisiensi operasional pelabuhan jika tidak diantisipasi dengan baik,” ujarnya.
Untuk itu, SPPI Bersatu mendorong seluruh jajaran pelabuhan bekerja lebih cepat dan efektif guna mengimbangi potensi keterlambatan pengiriman jalur laut. Dodi menyatakan langkah tersebut diharapkan dapat memperkecil dampak keterlambatan pengiriman barang dan logistik terhadap perekonomian Indonesia.

