BERITA TERKINI
IMF, IEA, dan Bank Dunia Bentuk Kelompok Koordinasi Respons Dampak Konflik Iran-AS

IMF, IEA, dan Bank Dunia Bentuk Kelompok Koordinasi Respons Dampak Konflik Iran-AS

International Monetary Fund (IMF), International Energy Agency (IEA), dan World Bank sepakat membentuk kelompok koordinasi untuk merespons dampak besar konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang dinilai telah mengacaukan ekonomi global.

Dalam pernyataan bersama, ketiga lembaga menyebut konflik yang memasuki bulan kedua itu telah mengganggu pasokan energi dan memicu salah satu krisis pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi global.

“Pada saat-saat ketidakpastian yang tinggi ini, sangat penting bagi lembaga-lembaga kita untuk bersatu memantau perkembangan, menyelaraskan analisis, dan mengoordinasikan dukungan kepada para pembuat kebijakan untuk mengatasi krisis ini,” kata para kepala IMF, IEA, dan Bank Dunia.

Kelompok koordinasi tersebut akan memantau perkembangan dampak global, menyelaraskan analisis kebijakan, serta mengoordinasikan dukungan bagi negara-negara terdampak. Selain itu, ketiga lembaga juga menyatakan akan memobilisasi berbagai pihak untuk membantu negara-negara yang paling rentan terhadap dampak krisis.

Respons yang disiapkan mencakup rekomendasi kebijakan yang terarah, penilaian kebutuhan pembiayaan negara, serta dukungan finansial. Bentuk dukungan yang disebutkan antara lain pinjaman berbunga rendah atau nol persen hingga instrumen mitigasi risiko.

“Mekanisme respons dapat mencakup saran kebijakan yang ditargetkan, penilaian kebutuhan pembiayaan potensial dan penyediaan dukungan keuangan terkait, termasuk melalui pembiayaan rendah atau nol persen, serta alat mitigasi risiko yang tidak ditentukan,” kata mereka.

IMF, IEA, dan Bank Dunia menilai dampak konflik telah terasa luas, mulai dari lonjakan harga minyak dan gas, kenaikan harga pupuk dan pangan, hingga penurunan sektor pariwisata.

“Dampaknya substansial, global, dan sangat asimetris, secara tidak proporsional memengaruhi importir energi, khususnya negara-negara berpenghasilan rendah,” kata IMF, IEA, dan Bank Dunia.

Selain tekanan pada harga dan pasokan, krisis juga disebut memicu volatilitas pasar keuangan, pelemahan mata uang di negara berkembang, serta meningkatnya kekhawatiran terkait inflasi global. Kondisi itu dinilai dapat mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

“Volatilitas pasar yang dihasilkan, pelemahan mata uang di negara-negara berkembang, dan kekhawatiran tentang ekspektasi inflasi meningkatkan prospek kebijakan moneter yang lebih ketat dan pertumbuhan yang lebih lemah,” kata organisasi-organisasi tersebut.

Ketiga lembaga menegaskan komitmen untuk bekerja sama menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan global, memperkuat keamanan energi, serta mendukung negara dan masyarakat terdampak agar dapat pulih dan kembali mencapai pertumbuhan berkelanjutan.

“Kami berkomitmen untuk bekerja sama guna menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan global, memperkuat keamanan energi, dan mendukung negara serta masyarakat yang terdampak dalam perjalanan mereka menuju pemulihan berkelanjutan, pertumbuhan, dan penciptaan lapangan kerja melalui reformasi,” kata mereka.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pihaknya telah menerima permintaan gencatan senjata dari Iran, yang menurutnya disampaikan oleh presiden rezim baru di Iran, tanpa menyebut identitasnya. Trump mengatakan permintaan itu akan dipertimbangkan jika Iran kembali membuka Strait of Hormuz atau Selat Hormuz. Ia menegaskan operasi militer akan berlanjut selama jalur tersebut belum aman.

“Kami akan mempertimbangkannya ketika mereka membuka kembali Selat Hormuz. Sampai saat itu, kami akan membombardir mereka hingga musnah atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke Zaman Batu,” kata Trump.

Iran membantah pernyataan tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan klaim mengenai permintaan gencatan senjata tidak benar dan tidak berdasar.