BERITA TERKINI
Sorotan Ekonomi Global 24 Maret 2026: Emas Tertekan, Asia Diproyeksi Tumbuh 4,5%, dan Eropa Dihantui Risiko Energi

Sorotan Ekonomi Global 24 Maret 2026: Emas Tertekan, Asia Diproyeksi Tumbuh 4,5%, dan Eropa Dihantui Risiko Energi

Sejumlah perkembangan ekonomi global pada 24 Maret 2026 menyoroti tekanan yang masih kuat dari ketegangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, terhadap pasar komoditas, prospek pertumbuhan, dan kebijakan ekonomi di berbagai kawasan.

Di pasar komoditas, harga emas tercatat melemah pada 24 Maret dan memperkuat perkiraan penurunan selama 10 hari berturut-turut. Jika berlanjut, tren ini berpotensi menjadi penurunan terpanjang dalam sejarah harga emas. Kekhawatiran terkait konflik di Timur Tengah disebut berdampak negatif pada inflasi global dan prospek pertumbuhan.

Dari Asia, Forum Boao untuk Asia merilis “Laporan Tahunan tentang Prospek Ekonomi dan Proses Integrasi di Asia pada Tahun 2026”. Dalam laporan tersebut, pertumbuhan ekonomi Asia diproyeksikan mencapai 4,5% pada 2026 dan dinilai tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi global. Laporan itu juga menyebut Tiongkok dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sebagai ekonomi yang paling menarik bagi investasi asing di kawasan.

Sementara itu, transformasi energi di China menjadi sorotan tersendiri. Menurut Charles Bourgault, manajer industri energi di Forum Ekonomi Dunia (WEF), pada 2024 China memasang sekitar 360 GW tenaga angin dan surya—lebih dari setengah total kapasitas energi terbarukan yang ditambahkan secara global pada tahun tersebut. Total kapasitas tenaga angin dan surya terpasang di negara itu mencapai sekitar 1,4 TW, setara dengan hampir sepertiga dari total global.

Di Eropa, pemulihan ekonomi dinilai berisiko menghadapi gejolak akibat ketegangan di Timur Tengah yang memicu fluktuasi harga minyak mentah dan gas. Biaya bahan bakar yang tinggi mulai berdampak pada harga barang kebutuhan pokok, meningkatkan risiko inflasi konsumen yang lebih luas jika kekurangan energi berkepanjangan terjadi. Kondisi ini mendorong pemerintah dan ekonom menilai ulang prospek 2026, dengan sebagian besar ekonomi Eropa menurunkan perkiraan pertumbuhan mereka untuk tahun tersebut.

Di kawasan Asia, sejumlah negara disebut kembali meningkatkan penggunaan batu bara sebagai solusi sementara di tengah kekurangan energi dan kenaikan harga yang dikaitkan dengan konflik di Iran. Namun, para ahli menilai krisis ini juga berpotensi menjadi katalis untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan.

Pasokan minyak juga menjadi perhatian pelaku industri di Asia. Menurut sumber, Saudi Aramco saat ini hanya memasok minyak mentah Arab Light yang diekspor dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah kepada pelanggan berdasarkan kontrak hingga April 2026. Situasi ini disebut terus menimbulkan kekurangan pasokan bagi kilang-kilang di Asia dan membatasi produksi produk olahan.

Dari Turki, bank sentral negara tersebut dikabarkan membahas kemungkinan melakukan swap emas-untuk-mata uang asing di pasar London. Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk meningkatkan likuiditas valuta asing di tengah tekanan depresiasi yang signifikan pada mata uang domestik. Hingga awal Maret 2026, cadangan emas Turki dilaporkan berjumlah 135 miliar dolar AS, dengan sekitar 30 miliar dolar AS di antaranya disimpan di Bank of England (BoE), sehingga memungkinkan intervensi pasar valuta asing dilakukan lebih cepat tanpa hambatan logistik.

Di bidang perdagangan, Australia dan Uni Eropa menyelesaikan negosiasi perjanjian perdagangan bebas setelah delapan tahun pembicaraan. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan perjanjian senilai hampir 7 miliar dolar AS itu diharapkan mendorong ekspor kedua pihak di tengah ketidakpastian perdagangan global.

China juga mengumumkan penemuan cadangan logam tanah jarang ringan terbesar kedua di dunia di Kabupaten Mianning, Provinsi Sichuan. Kementerian Sumber Daya Alam China menyebut penemuan ini menambah 9,67 juta ton oksida tanah jarang ke cadangan nasional, yang disebut mewakili peningkatan lebih dari 300%. Selain itu, ditemukan pula sumber daya baru di area pertambangan Mao Niuping di wilayah yang sama, termasuk 27,14 juta ton fluorit dan 37,23 juta ton barit, yang diklasifikasikan sebagai cadangan skala super besar.

Di Jepang, data Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi menunjukkan inflasi inti turun di bawah target untuk pertama kalinya sejak 2022. Indeks Harga Konsumen (CPI) inti pada Februari 2026 naik 1,6% secara tahunan, menjadi kenaikan terendah sejak Maret 2022. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan ekonom sebesar 1,7% dan turun dari 2,0% pada Januari 2026, sekaligus menjadi kali pertama berada di bawah target 2% Bank Sentral Jepang (BoJ) sejak 2022.