BERITA TERKINI
Solana Company Susun Peta Jalan ‘Pacific Backbone’ untuk Perkuat Infrastruktur Latensi Rendah di Asia-Pasifik

Solana Company Susun Peta Jalan ‘Pacific Backbone’ untuk Perkuat Infrastruktur Latensi Rendah di Asia-Pasifik

Solana Company (Nasdaq: HSDT), perusahaan treasury aset digital (DAT) yang berbasis di Newtown, Pennsylvania, mengumumkan rencana pembangunan “Pacific Backbone”, yakni kluster infrastruktur latensi rendah yang menargetkan sejumlah pusat keuangan utama di Asia-Pasifik. Kota yang disebut dalam rencana tersebut mencakup Seoul, Tokyo, Singapura, dan Hong Kong.

Perusahaan menyatakan inisiatif ini dirancang untuk meningkatkan kinerja staking dan validasi di kawasan, sekaligus mendiversifikasi sumber pendapatan. Dalam peta jalannya, Solana Company menargetkan deployment infrastruktur dalam waktu dekat, sementara optimasi kinerja serta adopsi teknologi baru direncanakan pada paruh kedua 2026.

Solana Company menilai Asia-Pasifik sebagai peluang besar dengan mengacu pada konsentrasi pengguna kripto, aktivitas keuangan lintas batas, dan akumulasi kekayaan di wilayah tersebut. Namun, perusahaan juga menyoroti adanya celah jaringan dalam infrastruktur regional Solana. Solana Company disebut sebagai perusahaan publik terbesar kedua berdasarkan kepemilikan SOL, dengan 2.340.757 SOL di bawah naungannya.

Cosmo Jiang, mitra umum di Pantera Capital Management, mengatakan langkah ini mencerminkan kuatnya permintaan terhadap layanan staking dan validasi yang lebih baik di Asia. Ia menilai antusiasme dan komitmen terhadap kripto di kawasan tersebut tinggi, serta peta jalan ini diharapkan dapat mendukung diversifikasi pendapatan.

CEO Solana Company, Joseph Chee, menyebut rencana ini sebagai bagian dari persiapan menuju siklus pertumbuhan berikutnya untuk Solana. Menurut dia, pembentukan Pacific Backbone ditujukan untuk mendukung ekosistem pengembang dan mitra yang sudah ada, sekaligus mempercepat onboarding peserta baru, terutama lembaga keuangan dan perusahaan teknologi di Asia-Pasifik.

Dalam strategi DAT yang dipaparkan, perusahaan memulai dengan mengaktifkan node-node kecil untuk memperkuat keamanan dan efisiensi sebelum memperluas skala lebih lanjut. Solana Company juga berencana menerapkan peningkatan hardware dan memperluas kemampuan staking, dengan tujuan berpotensi menangkap lebih banyak nilai secara internal dibanding bergantung pada pihak ketiga.

Di luar penguatan infrastruktur, perusahaan turut menyampaikan ambisi pengembangan di area keuangan terdesentralisasi (DeFi), staking likuid, pembuat pasar otomatis (AMM), layanan panggilan prosedur jarak jauh (RPC), serta layanan eksekusi yang disesuaikan bagi mitra keuangan tradisional di Asia-Pasifik.

Di sisi pasar, saham Solana Company (HSDT) tercatat melemah di tengah penurunan ekonomi kripto yang lebih luas. Pada Senin, HSDT turun lebih dari 13% terhadap dolar AS. Dalam 30 hari terakhir, saham tersebut dilaporkan turun lebih dari 46%, sementara data 12 bulan menunjukkan penurunan lebih dari 99%.

Solana (SOL) sendiri disebut diperdagangkan 73,4% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada Januari 2025. Meski demikian, rilis Solana Company juga menampilkan sejumlah metrik jaringan Solana, termasuk throughput di atas 3.500 transaksi per detik, sekitar 3,7 juta dompet aktif harian, serta lebih dari 23 miliar transaksi yang tercatat hingga saat ini. Perusahaan juga menyoroti imbal hasil staking asli bagi pemegang SOL, yang mereka bandingkan dengan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti bitcoin.