Film Pangku menempatkan Sartika (Claresta Taufan), seorang ibu muda yang sedang hamil, sebagai pusat cerita. Terdesak kondisi ekonomi dan berupaya mencari masa depan yang lebih baik untuk anaknya, Sartika pindah ke sebuah kedai kopi di kawasan Pantura milik Bu Maya (Christine Hakim). Namun, pekerjaan yang ia jalani tidak berhenti pada menyajikan minuman. Di tempat itu, Sartika dipaksa melayani praktik “kopi pangku”, ketika pelanggan—para sopir truk—menikmati kopi sambil memangku pramusaji.
Lewat realitas tersebut, film ini menampilkan bagaimana tubuh perempuan dapat diposisikan sebagai komoditas dalam situasi sosial-budaya dan ekonomi yang menekan. Titik balik hadir saat Sartika bertemu Hadi (Fedi Nuril), sopir truk distributor ikan yang menunjukkan simpati dan menjadi secercah harapan baginya untuk keluar dari lingkaran eksploitasi demi masa depan anaknya. Pangku juga berupaya melepaskan stigma, dengan menempatkan para pekerja dalam fenomena ini sebagai manusia biasa yang sedang berjuang.
Dari sisi estetika, Reza Rahadian dalam debut penyutradaraannya memilih pendekatan realis puitis. Sinematografi yang digarap Teo Gay Hian menangkap suasana Pantura yang sunyi, namun menyimpan gairah sekaligus ancaman. Penggunaan wide shot kerap menegaskan kesendirian dan kerentanan Sartika di tengah kerasnya ritme jalanan Pantura, sementara close-up dipakai intens untuk mendekatkan penonton pada dilema batin para karakter, menghadirkan emosi yang terasa sesak dan jujur.
Secara naratif, alur film bergerak tenang dengan gaya slice of life, menghindari dramatisasi berlebihan. Skenario yang ditulis Felix K. Nesi bersama Reza Rahadian menekankan detail dan nuansa latar, sehingga dampak emosionalnya muncul dari keseharian dan situasi yang terasa membumi. Cerita tidak semata berbicara tentang “kopi pangku”, melainkan juga tentang keibuan, harapan, serta martabat dalam keterbatasan.
Paradigma yang diusung film ini berpijak pada realisme sosial dengan sentuhan feminisme materialis. Pangku memotret bagaimana struktur ekonomi dan kondisi sosial-budaya dapat memaksa seseorang mengambil pekerjaan yang mengeksploitasi demi bertahan hidup dan membesarkan anak. Reza Rahadian mendefinisikan film ini sebagai “surat cinta untuk semua ibu”, termasuk melalui hadirnya perspektif afeksi pria tanpa banyak kata lewat karakter Pak Jaya (Jose Rizal Manua) yang digambarkan diam. Perspektif ini juga menjadi refleksi personal sutradara tentang peran pria dalam masa kecilnya ketika dibesarkan oleh ibu tunggal.
Sejumlah kelebihan film ini disebut terletak pada kekuatan naskah dan arah artistik yang tenang, jujur, dan puitis, sekaligus berhasil menghindari melodrama sehingga terasa lebih otentik. Keberanian penyutradaraan juga menonjol, mengingat isu yang diangkat sensitif namun diolah menjadi karya yang mendalam. Dari sisi akting, Claresta Taufan dinilai memukau sebagai Sartika, dengan dukungan penampilan kuat Christine Hakim dan Fedi Nuril. Film ini juga disebut meraih pengakuan internasional, termasuk di BIFF, HAF Goes to Cannes, serta FFI dengan Piala Citra Film Terbaik 2025.
Meski demikian, beberapa catatan juga muncul. Ritme yang tenang dapat terasa lambat bagi penonton yang terbiasa dengan konflik lebih eksplosif. Fokus film yang sangat spesifik pada fenomena kultural “kopi pangku” di Pantura juga berpotensi membutuhkan konteks lebih kuat bagi penonton yang tidak akrab dengan latar tersebut. Selain itu, meski berupaya menanggalkan stigma, penggambaran realitas yang kelam tetap menyimpan potensi disalahartikan jika dilepaskan dari konteks dan tujuan film.
Secara keseluruhan, Pangku diposisikan sebagai karya yang mendorong penonton untuk melihat lebih dekat pergulatan perempuan yang kerap dihakimi, sekaligus mengingatkan bahwa di balik pekerjaan apa pun terdapat perjuangan manusiawi yang layak dipahami dengan lebih bijak.