Menteri Senior Singapura Lee Hsien Loong menyampaikan kekhawatiran atas dampak serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran terhadap harga energi global dan stabilitas ekonomi Singapura. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato pada acara makan malam Imlek di Teck Ghee Community Club, Sabtu, 28 Februari 2026, beberapa jam setelah eskalasi militer dikonfirmasi oleh media internasional.
“Serangan ini akan berdampak pada harga energi dan memengaruhi negara-negara yang bahkan jauh dari wilayah konflik, seperti Singapura,” kata Lee, dikutip The Straits Times, Minggu, 1 Maret 2026.
Lee juga menilai prospek ekonomi 2026 dipenuhi ketidakpastian akibat perkembangan eksternal, meski Singapura mencatat capaian ekonomi pada 2025. Ia menyebut pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 5 persen, kenaikan upah, serta inflasi yang lebih rendah, namun mengingatkan agar pencapaian tersebut tidak dianggap remeh.
Dalam pidatonya, Lee mengatakan eskalasi telah meluas dengan adanya serangan balasan dari Iran. “Perang telah dimulai. Iran telah melakukan serangan balasan, terhadap kota-kota dan sasaran di seluruh Timur Tengah, termasuk Israel, Doha, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab,” ujarnya.
Ia menambahkan, jalannya konflik sulit diperkirakan. “Kita bisa melihat kapan perang dimulai. Tapi sangat sulit untuk memprediksi bagaimana perang ini akan berakhir,” kata mantan Perdana Menteri Singapura itu.
Selain konflik di Timur Tengah, Lee turut menyoroti kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump setelah putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan sebagian besar tarif 2025 ilegal. Menurut Lee, Trump sempat menetapkan tarif flat 10 persen untuk seluruh negara, lalu menaikkannya menjadi 15 persen dalam waktu satu hari.
“Kami mengamati dengan penuh kewaspadaan. Namun sejauh ini, tarif resmi dari AS masih sebesar 10 persen. Jadi kami agak lega, tetapi saya pikir kami harus terus memantau dengan cermat,” ujar Lee.
Lee menilai kombinasi ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, dan disrupsi perdagangan dapat menyulitkan dunia usaha dalam mengambil keputusan. “Karena pelaku usaha akan kesulitan membuat perencanaan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi besok, apa yang bisa mereka andalkan, ke mana mereka bisa berinvestasi dengan aman,” katanya. Ia menambahkan kondisi tersebut berpengaruh pada Singapura sebagai ekonomi kecil dan terbuka yang bergantung pada perdagangan global.
Dalam kesempatan yang sama, Lee menyampaikan pemerintah Singapura menyiapkan skema dukungan melalui Anggaran 2026, termasuk bantuan langsung tunai, subsidi utilitas, serta dukungan pelatihan kecerdasan buatan (AI).
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan belum ada pernyataan resmi dari otoritas fiskal maupun energi Indonesia terkait potensi dampak eskalasi konflik terhadap perekonomian nasional. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi dampak lanjutan terhadap harga BBM, subsidi energi, inflasi, serta neraca perdagangan jika ketegangan berkembang menjadi krisis pasokan energi global.
Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa hingga kini belum ada pernyataan eksplisit dari Presiden RI Prabowo Subianto, Kementerian Keuangan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), maupun Bank Indonesia terkait potensi dampak konflik terbaru ini terhadap stabilitas ekonomi nasional.

