BERITA TERKINI
Singapura Dijadwalkan Terima F-35B Pertama pada 2026, Akan Operasikan dari Pangkalan Darat

Singapura Dijadwalkan Terima F-35B Pertama pada 2026, Akan Operasikan dari Pangkalan Darat

Singapura dijadwalkan menerima empat unit pertama jet tempur siluman F-35B dengan kemampuan lepas landas pendek dan pendaratan vertikal (short take-off and vertical landing/STOVL) sebelum akhir 2026. Dengan akuisisi ini, Singapura disebut akan menjadi negara pertama yang mengoperasikan F-35B dari pangkalan darat, berbeda dengan Amerika Serikat yang lebih dulu mengoperasikan varian tersebut dari kapal induk.

Kemampuan STOVL dinilai relevan bagi Singapura yang memiliki keterbatasan ruang untuk infrastruktur pangkalan udara tradisional. Dengan luas daratan sekitar 280 mil persegi, F-35B memungkinkan operasi dari lokasi yang lebih fleksibel, seperti jalan raya yang diperkuat atau landasan beton yang lebih kecil.

Meski tidak disebut memiliki perselisihan besar dengan negara lain, sejumlah pakar militer menilai pengadaan F-35B berkaitan dengan kekhawatiran terhadap peningkatan kekuatan militer Beijing di Laut China Selatan. Penilaian tersebut menyebut potensi ancaman dari China sebagai salah satu dasar keputusan pengadaan, baik sebagian maupun seluruhnya.

Evaluasi terhadap platform F-35 disebut telah dimulai sejak awal 2010-an. Setelah hampir satu dekade, Singapura menyetujui pembelian empat unit F-35B melalui kesepakatan senilai USD2,75 miliar yang ditandatangani pada 2019, disertai opsi pembelian delapan unit tambahan sebagai bagian dari rencana penggantian armada F-16 yang menua. Opsi itu kemudian dijalankan pada 2023 sehingga total pesanan F-35B menjadi 12 unit.

Pada Februari 2024, Singapura memutuskan membutuhkan lebih banyak jet siluman generasi kelima dan memesan tambahan delapan unit F-35A. Dengan keputusan itu, total armada F-35 yang direncanakan Singapura menjadi 20 unit.

Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen sebelumnya menekankan bahwa kemampuan F-35 untuk beroperasi jauh dari infrastruktur pangkalan udara yang berpotensi rentan merupakan “fitur penting” bagi Singapura yang kekurangan lahan. Dalam laporan yang dikutip EurAsian Times, keterbatasan wilayah disebut membuat kemampuan F-35B untuk menyebar ke jalan raya yang diperkuat atau landasan beton lebih kecil menjadi faktor yang signifikan.

Negara kecil dengan angkatan udara modern

Dengan populasi sekitar 6 juta jiwa dan luas sekitar 728 kilometer persegi, Singapura merupakan salah satu negara terkecil di dunia dan berstatus negara kota. Namun, Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF) mempertahankan armada yang modern dan berteknologi tinggi, yang kerap dinilai sebagai salah satu yang paling canggih di Asia Tenggara.

RSAF mencatat bahwa kebutuhan memperkuat pertahanan udara mengemuka setelah pengumuman Inggris pada 1968 untuk menarik pasukannya dari kawasan itu pada Maret 1971. Kondisi tersebut mendorong Singapura mengambil alih peran pertahanan udara yang sebelumnya dijalankan Angkatan Udara Kerajaan (RAF) Inggris, meski saat itu negara tersebut belum memiliki komponen angkatan udara tambahan atau sukarelawan operasional lokal.

Menurut pernyataan di situs resmi RSAF, kebutuhan paling mendesak pada periode awal adalah membentuk inti personel terlatih—mulai dari pilot, pengendali, personel teknis, hingga operator senjata—yang kemudian membangun Komando Pertahanan Udara Singapura yang didirikan pada 1 September 1968. RSAF juga menyebut bahwa selama lima dekade, generasi penerbang pria dan wanita membangun kemampuan untuk menjaga keamanan langit Singapura serta melindungi rumah dan kepentingan negara.

RSAF menyatakan saat ini mereka menjadi salah satu angkatan udara yang paling maju dan mampu di kawasan, dengan kesiapan untuk menjalankan berbagai jenis operasi, dari masa damai hingga perang.