BERITA TERKINI
Serangan AS dan Israel ke Iran Dinilai Terkait Persaingan Strategis AS-Tiongkok

Serangan AS dan Israel ke Iran Dinilai Terkait Persaingan Strategis AS-Tiongkok

Operasi militer skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mengguncang Timur Tengah dan memunculkan kembali pembahasan tentang limpahan persaingan strategis AS dan Tiongkok ke kawasan tersebut.

Peneliti Hudson Institute di Washington, Rebeccah L. Heinrichs, menilai isu Iran tidak bisa semata dipahami sebagai persoalan keamanan regional. Menurutnya, bagi Tiongkok, Iran merupakan titik tumpu penting yang dapat memengaruhi keseimbangan strategis di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik.

Heinrichs menyebut Beijing selama bertahun-tahun telah menginvestasikan miliaran dolar untuk membina Teheran sebagai aset strategis. Ia menyoroti kerja sama Tiongkok-Iran di bidang energi, teknologi, dan militer yang dinilai menjadi bagian dari tata letak global Tiongkok. Dalam kerangka itu, serangan militer AS terhadap Iran—meski tidak secara langsung menargetkan Tiongkok—dipandang secara objektif dapat melemahkan salah satu pilar penting Beijing di Timur Tengah.

Ia juga mengaitkan dinamika ini dengan situasi Taiwan. Jika Washington tertahan dalam jangka waktu lama oleh perkembangan di Timur Tengah, Beijing dinilai berpotensi memperoleh lebih banyak waktu di Indo-Pasifik untuk memperkuat penataan militer dan diplomatiknya.

Dengan demikian, kemampuan AS mengakhiri masalah Iran dipandang berpengaruh terhadap kapasitas Washington memusatkan sumber daya di Indo-Pasifik. Heinrichs menilai, bila konflik berlarut, AS berisiko tergerus secara pasif dalam persaingan strategis dengan Tiongkok.

Dari sudut pandang keamanan energi, disebutkan sekitar 70% minyak Tiongkok bergantung pada impor dan sebagian besar diangkut melalui Selat Malaka. Jika konflik pecah di Selat Taiwan, jalur pelayaran laut terkait diperkirakan menjadi fokus serangan dan pertahanan. Pada saat yang sama, AS dinilai akan mengandalkan sekutu untuk menerapkan sanksi, isolasi keuangan, dan blokade teknologi guna menekan Tiongkok menanggung biaya tinggi.

Namun, efektivitas strategi aliansi semacam itu dinilai bergantung pada kesediaan negara-negara penghasil minyak utama untuk bekerja sama. Apabila negara-negara tersebut membangun hubungan ekonomi yang lebih erat dengan Tiongkok, maka efektivitas sanksi energi Barat terhadap Tiongkok di masa depan disebut berpotensi terbatas.

Di sisi lain, kekuatan bersenjata yang didukung Iran dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir kerap menyerang kapal dagang di jalur pelayaran Laut Merah. Situasi ini membuat militer AS harus mengerahkan sumber daya yang besar untuk menjaga keamanan pelayaran.

Analisis yang dikemukakan menyatakan setiap tambahan kekuatan yang dikerahkan AS di Timur Tengah berarti berkurangnya daya tawar di Indo-Pasifik. Jika konflik Timur Tengah berkepanjangan, AS dikhawatirkan akan kesulitan menanggung dua zona perang berintensitas tinggi secara bersamaan.

Secara keseluruhan, operasi militer AS dan Israel terhadap Iran dinilai bukan hanya menjadi variabel dalam struktur kekuasaan Timur Tengah, melainkan juga medan perpanjangan persaingan AS-Tiongkok. Ketika situasi Timur Tengah dan keamanan Selat Taiwan saling memengaruhi, konflik regional disebut tidak lagi sekadar peristiwa lokal, tetapi bagian dari kompetisi strategis global—termasuk bagi Taiwan, yang dipandang akan terdampak oleh perubahan alokasi sumber daya internasional dan ritme interaksi AS-Tiongkok.