Akademi Diplomatik Vietnam menggelar seminar bertajuk “Koneksi Multidimensi: Memilih Karier yang Tepat - Meraih Masa Depan” pada pagi 16 April di Hanoi. Kegiatan ini menjadi bagian dari Pekan Pameran Karier dan Pekerjaan 2026, dengan fokus membahas kesiapan mahasiswa menghadapi pasar kerja di tengah integrasi internasional dan perubahan standar kompetensi.
Direktur Akademi Diplomatik, Dr. Nguyen Hung Son, menyatakan lembaganya memprioritaskan pelatihan mahasiswa agar menjadi kekuatan inti dalam urusan luar negeri dan integrasi internasional. Ia menekankan pentingnya pembekalan pengetahuan dasar sekaligus pengembangan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan yang beragam.
Wakil Direktur Akademi Diplomatik, Dr. Nguyen Thi Thin, menilai mahasiswa saat ini memiliki lebih banyak pilihan karier. Menurutnya, kampus berupaya membimbing mahasiswa agar tidak hanya memiliki fondasi kuat di bidang urusan luar negeri, tetapi juga siap memasuki pasar kerja di perusahaan, korporasi teknologi, maupun organisasi internasional.
Dalam diskusi panel, para pembicara mengangkat kesenjangan antara kompetensi praktis yang dibutuhkan pasar kerja dan keterampilan yang diperoleh mahasiswa di ruang kelas. Le Duc Thien, Wakil Direktur Departemen Organisasi Personalia Kementerian Luar Negeri, mengatakan nilai akademik yang baik baru menjadi syarat untuk melewati seleksi awal. Ia menyebut peluang kerja lebih ditentukan oleh kemampuan memecahkan masalah, sikap, dan kemampuan persuasif.
Thien juga menyoroti sejumlah kendala yang membuat kandidat muda gugur sejak tahap awal, termasuk hal-hal yang terlihat sederhana seperti lupa jadwal ujian atau datang terlambat saat wawancara. Menurutnya, situasi tersebut mencerminkan lemahnya keterampilan interpersonal dan disiplin pribadi.
Dari perspektif organisasi internasional, Pham Thi Thanh Huong menilai hambatan yang sering muncul adalah lamaran massal tanpa riset memadai tentang institusi yang dilamar. Ia mencontohkan empat dari lima kandidat yang mencapai wawancara final di UNESCO disebut tidak meneliti misi dasar organisasi tersebut melalui situs resminya. Huong menyarankan kandidat menyesuaikan cara mengemas pengalaman sesuai kebutuhan organisasi dan menghindari penggunaan satu resume yang sama untuk berbagai posisi.
Para ahli juga mendorong mahasiswa untuk proaktif mempelajari kerangka kompetensi organisasi seperti UNESCO, ILO, dan UNDP sebagai bahan pembanding untuk meningkatkan keterampilan.
Sementara itu, di sektor bisnis, pola rekrutmen dinilai semakin berlapis dan mengarah pada pencarian talenta berpotensi menjadi pemimpin masa depan. Phan Thi Hong Dung, yang memiliki pengalaman 25 tahun di bidang manajemen sumber daya manusia, mengatakan perekrut mencari kemampuan pengembangan komprehensif berdasarkan empat aspek yang ia sebut sebagai empat T: fisik, intelektual, emosional, dan spiritual. Ia mendorong mahasiswa tidak menunggu peluang datang, melainkan merancang arah karier secara aktif melalui pendekatan “Future by design”.
Sejumlah pandangan dalam seminar tersebut juga dikaitkan dengan kondisi pasar tenaga kerja Vietnam. Data Kantor Statistik Umum menunjukkan persentase pekerja terlatih dengan gelar dan sertifikat mencapai 29,6% pada kuartal pertama 2026, naik tipis dari 29,2% pada 2025, namun dinilai masih rendah dibanding kebutuhan ekonomi yang mempercepat transformasi digital. Dengan angkatan kerja sekitar 53,2 juta orang dan tingkat pengangguran penduduk usia kerja 2,22%, pasar tenaga kerja disebut masih menghadapi kekurangan sumber daya manusia berkualitas tinggi di sektor strategis seperti teknologi informasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan.
Dalam konteks tersebut, seminar menekankan pentingnya peran perguruan tinggi untuk lebih proaktif menghubungkan pembelajaran dengan praktik rekrutmen serta memperbarui standar kompetensi. Langkah ini dipandang sebagai upaya mendasar agar mahasiswa lebih percaya diri memasuki pasar kerja yang semakin terintegrasi.