Sebuah seminar bertajuk “Kegiatan Diplomasi Antar Masyarakat di Seluruh Dunia dan Beberapa Pelajaran yang Dapat Dipetik untuk Vietnam” menghadirkan sejumlah pejabat, akademisi, dan peneliti untuk membahas perkembangan diplomasi antar masyarakat di berbagai negara serta implikasinya bagi Vietnam.
Acara ini dihadiri antara lain oleh Dong Huy Cuong, Wakil Presiden Persatuan Organisasi Persahabatan Vietnam sekaligus Sekretaris Ilmiah proyek, serta Profesor Madya Dr. Hoang Van Nghia, Direktur Departemen Kerja Sama Internasional Akademi Ilmu Politik Nasional Ho Chi Minh yang juga anggota utama proyek. Seminar turut melibatkan para ahli dan peneliti dari Akademi Ilmu Sosial Vietnam, Akademi Jurnalistik dan Komunikasi, organisasi politik dan sosial, organisasi masyarakat, serta asosiasi persahabatan bilateral Vietnam dengan negara lain.
Dalam sambutan pembukaan, Dong Huy Cuong menekankan bahwa di tengah globalisasi dan demokratisasi kehidupan internasional, aktor non-negara—seperti warga negara, organisasi sosial, dan organisasi non-pemerintah—kian berperan dalam hubungan internasional. Menurutnya, banyak negara memanfaatkan diplomasi antar masyarakat dalam berbagai bentuk, termasuk diplomasi publik dan diplomasi rakyat, untuk memperkuat kekuatan lunak, mempromosikan citra nasional, serta mendukung tujuan pembangunan.
Ia juga menilai perubahan cepat situasi global mendorong kebutuhan mendesak bagi Vietnam untuk berinovasi dalam pemikiran, pendekatan, dan metode pelaksanaan diplomasi antar masyarakat, agar selaras dengan posisi dan kebutuhan pembangunan negara.
Dalam rangkaian pembahasan, para delegasi menyoroti sejumlah isu utama: dasar politik dan hukum serta posisi diplomasi antar masyarakat dalam kebijakan luar negeri secara keseluruhan; isi dan metode pelaksanaannya; penilaian efektivitas, keterbatasan, dan tren perkembangan; serta analisis dampak dan pelajaran yang dapat diterapkan di Vietnam.
Diskusi menunjukkan bahwa di banyak negara, diplomasi antar masyarakat semakin terkait erat dengan strategi kebijakan luar negeri dan kepentingan nasional. Pelaksanaannya dinilai makin sistematis dan terorganisir, serta meluas ke bidang budaya, pendidikan, media, dan pertukaran antar masyarakat. Sejumlah saluran seperti pendidikan, budaya, jaringan mahasiswa, komunitas Vietnam di luar negeri, dan platform digital disebut sebagai instrumen penting untuk memperkuat konektivitas dan pengaruh internasional.
Para peserta juga menyoroti kecenderungan pendekatan yang menggabungkan peran pengarah negara dengan partisipasi organisasi sosial, sehingga membentuk jaringan yang beragam untuk memperkuat landasan sosial hubungan luar negeri dan mendukung tujuan pembangunan. Pada tingkat multilateral, forum rakyat ditegaskan sebagai saluran penting untuk meningkatkan konektivitas, pertukaran, dan memperluas kerja sama.
Berdasarkan pembahasan tersebut, sejumlah saran mengemuka, antara lain perlunya Vietnam meningkatkan pemikiran strategis, memperkuat koordinasi, berinovasi dalam metode implementasi, serta memanfaatkan sumber daya sosial secara lebih efektif dalam diplomasi antar masyarakat ke depan.
Seminar ini memuat enam presentasi, yang membahas pengalaman dan pelajaran dari berbagai konteks: diplomasi antar masyarakat di Rusia; penerapan kebijakan luar negeri melalui saluran antar masyarakat di Amerika Serikat; diplomasi antar masyarakat di Tiongkok; pengalaman Jepang membangun merek nasional sejak 1945 dengan studi kasus diplomasi antar masyarakat Vietnam–Jepang; diplomasi antar masyarakat di Laos; serta kegiatan diplomasi antar masyarakat dalam mekanisme dan forum multilateral beserta pelajaran bagi kerja diplomasi antar masyarakat Vietnam.

