BERITA TERKINI
Selat Hormuz: Jalur Pelayaran Kunci Dunia yang Sarat Sejarah dan Ketegangan Geopolitik

Selat Hormuz: Jalur Pelayaran Kunci Dunia yang Sarat Sejarah dan Ketegangan Geopolitik

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran maritim paling krusial di dunia. Selat sepanjang sekitar 96 kilometer ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, sekaligus menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Peran Selat Hormuz dalam perdagangan internasional telah terbentuk sejak berabad-abad lalu. Nama “Hormuz” diyakini berasal dari kerajaan kecil yang berkuasa di wilayah tersebut pada abad ke-13 hingga ke-16, atau dari nama dewa Persia Tengah, Ahura Mazda. Pada masa itu, kawasan Selat Hormuz menjadi jalur utama perdagangan rempah-rempah, sutra, hingga logam mulia yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Memasuki abad ke-16, wilayah strategis ini mulai diperebutkan kekuatan kolonial. Kekaisaran Portugis menguasai Selat Hormuz pada 1515 dengan tujuan mengendalikan arus perdagangan di Teluk Persia. Namun, dominasi tersebut tidak bertahan lama setelah adanya intervensi kekuatan Eropa lain seperti Inggris dan Belanda pada abad ke-17.

Pada abad ke-20, peran Selat Hormuz berubah signifikan seiring ditemukannya cadangan minyak besar di kawasan Teluk. Sejak itu, selat ini menjadi jalur vital distribusi energi dunia dan berpengaruh terhadap stabilitas pasokan global.

Dalam konteks modern, Selat Hormuz kerap menjadi titik panas konflik geopolitik. Salah satu periode paling menegangkan terjadi saat Perang Iran-Irak, terutama dalam fase yang dikenal sebagai “Perang Tanker”, ketika kapal-kapal minyak menjadi sasaran serangan.

Saat ini, pengawasan Selat Hormuz berada di bawah dua negara, yakni Iran dan Oman. Meski demikian, perairan ini merupakan jalur internasional yang dapat dilalui kapal-kapal dari berbagai negara.

Ketegangan masih kerap muncul, terutama terkait ancaman dari Iran untuk menutup selat tersebut dalam situasi konflik. Kondisi ini membuat Selat Hormuz dipandang sebagai salah satu titik risiko tertinggi bagi stabilitas pasokan energi global.

Dari sisi geografis, lebar Selat Hormuz berkisar antara 39 hingga 96 kilometer. Namun, jalur pelayaran yang aman hanya sekitar 3,2 kilometer untuk masing-masing arah. Keterbatasan ini menjadikan selat tersebut rentan terhadap gangguan, baik dari sisi keamanan maupun dinamika geopolitik.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran global terhadap potensi terganggunya pasokan energi dunia. Sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan dan mengerahkan armada untuk memastikan keamanan jalur distribusi minyak. Ketidakpastian ini turut memicu fluktuasi harga minyak dunia serta meningkatkan risiko krisis energi dan tekanan ekonomi global.