BERITA TERKINI
Selat Hormuz dan Risiko Guncangan Energi Global di Tengah Memanasnya Konflik AS–Israel–Iran

Selat Hormuz dan Risiko Guncangan Energi Global di Tengah Memanasnya Konflik AS–Israel–Iran

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali menegaskan bahwa perang modern tidak hanya berlangsung melalui operasi militer. Dampaknya juga merambat ke jalur energi, pasar komoditas, serta jaringan logistik global yang menopang stabilitas ekonomi internasional.

Di tengah situasi ini, perhatian dunia tidak semata tertuju pada serangan rudal atau pergerakan pasukan, melainkan pada satu titik sempit yang dinilai krusial bagi pasokan energi: Selat Hormuz. Selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut selama puluhan tahun menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Laporan Al Jazeera berjudul “Iran war is latest threat to a global economy rattled by Trump” yang ditulis John Power dan diterbitkan pada 7 Maret 2026 menyoroti bahwa dampak awal konflik berpotensi cepat terasa pada kenaikan harga energi. Menurut laporan itu, gangguan pasokan minyak global dapat segera tercermin pada harga bahan bakar, seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan strategis: sejauh mana Iran memiliki daya tawar ekonomi global melalui Selat Hormuz?

Chokepoint minyak dunia

Dalam geopolitik energi, Selat Hormuz dipandang sebagai salah satu chokepoint terpenting bagi perdagangan minyak global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia disebut melintasi jalur ini setiap hari. Karena itu, ancaman penutupan atau gangguan di selat tersebut kerap memicu reaksi cepat di pasar energi internasional.

Al Jazeera mencatat lalu lintas kapal tanker di kawasan itu turun sekitar 90% dibanding kondisi normal setelah meningkatnya serangan terhadap kapal komersial. Penurunan aktivitas pelayaran ini memperbesar kekhawatiran tentang kelancaran distribusi energi, sekaligus mendorong spekulasi pasar.

Ketika risiko meningkat, sejumlah konsekuensi ekonomi biasanya mengikuti: harga minyak mentah terdorong naik, biaya asuransi kapal melonjak, dan perusahaan pelayaran mulai menghindari rute berisiko. Kenaikan biaya energi kemudian dapat merambat ke sektor lain—mulai dari transportasi hingga harga pangan—melalui efek berantai di perekonomian global.

Tekanan asimetris di tengah konflik

Dalam pembacaan strategis, Iran dinilai tidak perlu menyamai kekuatan militer konvensional Amerika Serikat untuk menimbulkan dampak besar. Posisi geografis di sekitar Selat Hormuz memberi ruang bagi strategi tekanan asimetris, yaitu memanfaatkan kerentanan struktural lawan dan sistem global.

Sejumlah skenario gangguan yang kerap dikaitkan dengan kawasan ini mencakup penempatan ranjau laut, serangan drone terhadap kapal tanker, atau ancaman rudal terhadap fasilitas energi negara-negara Teluk. Laporan Al Jazeera juga menyebut serangan terhadap fasilitas energi di Saudi Arabia dan Qatar sebagai contoh bagaimana eskalasi militer dapat dengan cepat bertransformasi menjadi risiko krisis energi.

Dalam konteks ini, ancaman gangguan yang berkelanjutan disebut sudah cukup untuk meningkatkan persepsi risiko, mempermahal logistik, dan mendorong lonjakan harga energi. Dengan kata lain, penutupan total selat tidak selalu diperlukan untuk memicu gejolak pasar.

Ketergantungan global pada satu jalur

Ketergantungan dunia pada Selat Hormuz memperlihatkan rapuhnya sistem perdagangan energi yang bertumpu pada jalur laut terbatas. Meski produksi minyak lebih tersebar—termasuk meningkatnya produksi Amerika Serikat—perdagangan energi internasional masih sangat bergantung pada titik-titik sempit seperti Hormuz.

Mayoritas minyak yang melintasi selat tersebut dikirim ke Asia, termasuk China, India, Japan, dan South Korea, yang memiliki kebutuhan energi besar dan relatif bergantung pada impor. Ketika jalur ini terganggu, dampaknya berpotensi meluas: inflasi dapat meningkat, bank sentral terdorong menaikkan suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi global bisa melambat.

Kerentanan ini menjelaskan mengapa konflik regional di Timur Tengah kerap berubah menjadi isu ekonomi global. Gangguan di Teluk Persia dapat mempengaruhi harga bahan bakar di Asia maupun Eropa dalam waktu singkat, seiring pasar merespons risiko pasokan.

Dalam situasi seperti sekarang, Selat Hormuz kembali menempati posisi sensitif dalam sistem ekonomi dunia. Ketika konflik militer bersinggungan dengan jalur energi strategis ini, dampaknya tidak lagi terbatas pada negara-negara yang bertikai, melainkan dapat menyentuh kehidupan masyarakat luas melalui kenaikan harga energi.