Selat Hormuz kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu titik rawan paling menentukan dalam perdagangan global. Meski hanya berupa koridor laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, jalur ini menanggung beban arus energi yang besar—sehingga risiko gangguan saja dinilai cukup untuk mengguncang pasar.
Pada 2024, volume minyak yang melintasi Selat Hormuz rata-rata sekitar 20 juta barel per hari. Angka ini setara dengan lebih dari seperempat perdagangan minyak laut global dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk petroleum dunia. Selain minyak, sekitar 20% perdagangan LNG global juga melewati selat ini, terutama dari Qatar. Dengan besaran tersebut, Hormuz berfungsi sebagai “katup pengatur” yang dapat memicu efek berantai pada harga energi, asuransi maritim, biaya bahan bakar, jadwal pengiriman, hingga sentimen pasar global.
Kerentanan ini sejatinya bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, berbagai analisis keamanan energi dan pelayaran internasional menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu choke point maritim terpenting di dunia, bersama Selat Malaka, Terusan Suez, Bab el-Mandeb, Terusan Panama, dan selat-selat Turki. Sistem perdagangan modern sangat bergantung pada sejumlah kecil titik strategis; ketika salah satunya terguncang, dampaknya kerap meluas jauh melampaui wilayah asal gangguan. Kekhawatiran utama bukan karena dunia tidak mengetahui risikonya, melainkan karena ketergantungan pada jalur yang sempit tetap dipertahankan meski risikonya dipahami.
Gambaran serupa terlihat pada dinamika Laut Merah dan Terusan Suez sepanjang 2024. Data dalam Tinjauan Transportasi Maritim UNCTAD 2024 menunjukkan bahwa pada pertengahan 2024, tonase kapal yang melintas Teluk Aden turun 76% dan melalui Terusan Suez turun 70%. Pada saat yang sama, lalu lintas kapal menuju Tanjung Harapan meningkat 89% seiring banyak perusahaan pelayaran memilih rute memutar. Perubahan rute ini memperpanjang perjalanan dan mendorong kenaikan permintaan ton-mil, termasuk peningkatan sekitar 12% permintaan kapal kontainer dibandingkan skenario tanpa pengalihan rute. Dampaknya, sistem harus menempuh jarak lebih jauh untuk melakukan pekerjaan yang sama, sehingga efisiensi riil menurun meskipun volume kargo tidak hilang.
Rangkaian peristiwa tersebut memperkuat kritik terhadap cara perdagangan modern dirancang: seolah-olah risiko geopolitik merupakan pengecualian yang jarang terjadi. Memasuki 2020-an, guncangan logistik muncul lebih sering dan menyebar lebih cepat—mulai dari pandemi, perang, kekeringan di Panama, hingga ketidakstabilan di Laut Merah. Di saat yang sama, pengoptimalan berlebihan untuk biaya rendah, pengiriman tepat waktu, dan persediaan tipis membuat banyak pelaku usaha dan pasar terbiasa dengan “ilusi stabilitas” yang berlangsung selama beberapa dekade.
Penilaian risiko global terbaru menunjukkan kekhawatiran ini tidak lagi terbatas pada kajian akademis. Laporan Risiko Global Forum Ekonomi Dunia 2026 mengidentifikasi konfrontasi geoekonomi sebagai risiko jangka pendek dengan probabilitas tertinggi yang dapat memicu krisis material global pada 2026. Ini menandakan fase baru dalam lingkungan perdagangan, ketika persaingan semakin dibentuk oleh konfrontasi strategis antarnegara, blok, dan koridor kepentingan. Dalam konteks tersebut, setiap hambatan maritim utama berpotensi menjadi sumber ketidakstabilan sistemik.
Data UNCTAD juga menegaskan bahwa pengalihan rute tidak hanya menambah waktu tempuh, tetapi turut meningkatkan biaya bahan bakar, asuransi, dan emisi, serta memperbesar risiko kemacetan di pusat-pusat alternatif. Bila dalam logika globalisasi lama perusahaan memprioritaskan rute termurah dan tercepat, maka dalam logika baru pertanyaan bergeser: rute mana yang paling sedikit terganggu, jaringan mana yang lebih tangguh, dan mitra mana yang mampu menjaga pengiriman tetap andal saat krisis terjadi. Dengan demikian, ketahanan tidak lagi menjadi pelengkap strategi, melainkan berubah menjadi infrastruktur strategis baru bagi bisnis internasional.
Dalam kerangka itu, Selat Hormuz dipandang sebagai peringatan yang datang terlambat namun tetap krusial. Ketergantungan perdagangan global bukan hanya ditentukan oleh teknologi, pelabuhan, armada, atau perjanjian liberalisasi, tetapi juga oleh kerapuhan hubungan strategis yang menopang jalur-jalur utama. Di dekade ini, keunggulan kompetitif tidak semata diukur dari biaya terendah atau kecepatan tercepat, melainkan dari kemampuan menghadapi krisis dengan kerusakan yang lebih kecil. Hormuz, pada akhirnya, bukan sekadar isu Timur Tengah, melainkan cerminan keterbatasan model globalisasi lama.

