PT Sekar Laut Tbk (SKLT) menargetkan peningkatan penjualan ekspor hingga 10% pada tahun ini dengan memperluas pasar ke negara-negara baru, khususnya di kawasan Afrika dan Timur Tengah.
Corporate Secretary PT Sekar Laut Tbk Jimmy Herlambang mengatakan, langkah ekspansi tersebut dilakukan di tengah kontribusi ekspor yang saat ini menyumbang sekitar 30% dari total penjualan perseroan. “Tahun ini kami akan masuk ke Afrika dan Timur Tengah,” ujarnya usai paparan publik, Rabu (23/4/2025).
Selama ini, Sekar Laut—produsen kerupuk dan sambal asal Kabupaten Sidoarjo—telah mengekspor produk ke sejumlah negara, termasuk Eropa. Kawasan Eropa, terutama Belanda, disebut menjadi pasar ekspor terbesar dengan kontribusi penjualan mencapai 40%.
Jimmy juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat menjadi salah satu negara tujuan ekspor, namun kontribusinya relatif kecil, sekitar 3%. Karena itu, menurutnya, kenaikan tarif impor tidak berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor ke negara tersebut. Meski demikian, ekspor ke AS tetap dipertahankan.
Di sisi lain, pasar domestik masih menjadi penopang utama dengan porsi sekitar 70% dari total penjualan. Untuk penjualan dalam negeri, produk sambal disebut paling dominan dengan kontribusi sekitar 60%. Perseroan memiliki sekitar 14 varian sambal, dengan sambal terasi sebagai produk yang paling laku.
Terkait kinerja keuangan, sepanjang 2024 Sekar Laut membukukan pendapatan Rp2,29 triliun, naik 27,8% dibanding 2023 sebesar Rp1,79 triliun. Secara rinci, pendapatan dari penjualan ekspor tercatat Rp301,54 miliar dan penjualan lokal Rp958,01 miliar. Sementara itu, penjualan barang dagangan yang berasal dari ekspor mencapai Rp6,58 miliar dan penjualan lokal Rp1,08 triliun.
Untuk tahun ini, perseroan menargetkan penjualan tumbuh sekitar 10% hingga 20%.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih SKLT pada 2024 tercatat Rp109,7 miliar, meningkat 40,29% dibanding 2023 sebesar Rp77,84 miliar. Total aset juga naik menjadi Rp1,52 triliun dari Rp1,28 triliun pada tahun sebelumnya.
Direktur PT Sekar Laut Tbk John C Gozal menambahkan, perseroan menyiapkan belanja modal (capex) sebesar Rp100 miliar pada tahun ini. Sekitar Rp40 miliar dialokasikan untuk pengadaan gudang dan depo di wilayah Indonesia bagian timur, seperti Palu, Kendari, Kupang, serta Bali. Adapun sekitar Rp60 miliar lainnya digunakan untuk pemeliharaan mesin.

