JAKARTA — Pemerintah menyiapkan langkah diversifikasi pasar ekspor dengan membidik sejumlah kawasan seperti Amerika Latin, negara-negara ASEAN, hingga Afrika Selatan. Strategi ini ditempuh untuk merespons gejolak geopolitik akibat perang Israel dan Amerika Serikat melawan Iran yang berdampak pada perdagangan di kawasan Teluk.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan konflik di kawasan tersebut membuat ekspor Indonesia ke beberapa negara terdampak, sehingga pemerintah mendorong perluasan tujuan ekspor ke pasar yang dinilai tidak terkena imbas langsung perang.
“Seperti pasar-pasar Afrika Selatan atau negara RCEP kemudian Asia Tenggara dan juga Amerika Latin,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Budi mengatakan Kemendag memprediksi kinerja ekspor Indonesia pada 2026 berpotensi turun dibanding tahun sebelumnya apabila perang di kawasan Teluk berlangsung dalam jangka panjang. Karena itu, pemerintah berupaya mencari alternatif pasar di negara-negara yang tidak terdampak konflik.
Menurut dia, diversifikasi pasar ekspor umumnya membutuhkan waktu cukup lama. Namun, dalam situasi geopolitik yang bergejolak, peta perdagangan global dapat berubah lebih cepat. Ia menilai kondisi tersebut dapat membuka peluang, terutama ketika sejumlah negara kesulitan memperoleh komoditas tertentu dari eksportir utama.
“Kalau kita punya peluang di situ artinya kita bisa memanfaatkan peluang itu dengan baik,” ujar Budi.
Untuk mendorong diversifikasi, Kemendag akan mengandalkan skema business matching atau pertemuan bisnis yang mempertemukan pelaku usaha dalam negeri dengan calon pembeli luar negeri. Budi menyebut mekanisme ini kerap dinilai efektif karena transaksi lintas negara dapat terwujud tanpa harus menunggu hingga satu tahun.
“Salah satu yang paling efektif sebenarnya business matching,” katanya.
Ia mencontohkan, program business matching pada 2025 hingga Januari 2026 yang digagas Kemendag bersama pihak terkait telah menghasilkan kontrak dagang senilai 4,57 juta dollar AS. Program tersebut melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) “Bisa Ekspor” yang dibantu Kemendag untuk mengakses pasar internasional.
“Ya itu kan ini kan salah satu bagian diversifikasi pasar ekspor. Yang kedua tentu ini sebenarnya kesempatan ya,” ucap Budi.
Perang di kawasan Teluk pecah setelah Israel dan AS menyerang Iran dan mengakibatkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, gugur. Iran kemudian membalas dengan menggempur basis militer Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Selama perang, Iran membatasi Selat Hormuz, jalur perairan yang menjadi lintasan perdagangan utama bagi negara-negara produsen minyak seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Iran. Situasi tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dan mendorong kenaikan biaya logistik.

