Sejumlah negara anggota NATO dilaporkan enggan mendukung rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz, khususnya terhadap kapal-kapal Iran. Sikap ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara sekutu Barat dalam merespons eskalasi konflik di Timur Tengah.
Inggris dan Prancis secara terbuka menyatakan tidak akan terlibat dalam langkah militer tersebut. Kedua negara menekankan pentingnya menjaga jalur pelayaran internasional tetap terbuka, mengingat Selat Hormuz merupakan rute vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan negaranya tidak akan mendukung rencana blokade Selat Hormuz. Dalam pernyataannya kepada BBC, Starmer menegaskan Inggris tidak ingin terseret ke dalam konflik yang lebih besar.
“Kami tidak mendukung blokade ini. Keputusan kami jelas, apa pun tekanannya dan tekanannya cukup besar kami tidak akan masuk ke dalam perang,” ujar Starmer.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron, seperti dikutip Reuters, menyatakan akan menggelar konferensi bersama Inggris dan negara lain untuk membentuk misi multinasional guna memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Macron menegaskan misi tersebut bersifat defensif dan tidak berpihak pada pihak yang sedang berkonflik. “Misi ini akan dikerahkan setelah situasi memungkinkan,” katanya.
Di tingkat aliansi, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sebelumnya menyampaikan bahwa Trump menginginkan komitmen konkret dari negara-negara anggota untuk menjaga keamanan di Selat Hormuz. Rutte juga membuka kemungkinan keterlibatan NATO apabila seluruh 32 anggota menyepakati pembentukan misi bersama.
Namun, sejumlah negara Eropa memilih bersikap hati-hati. Mereka menyatakan dukungan hanya akan diberikan bila terdapat penyelesaian konflik yang jelas serta adanya jaminan keamanan dari Iran terhadap kapal-kapal mereka.
Sikap serupa datang dari Turki. Menteri Luar Negeri Hakan Fidan menilai pembukaan kembali Selat Hormuz seharusnya ditempuh melalui jalur diplomasi, bukan militer. Ia juga menyebut pembentukan kekuatan internasional di kawasan tersebut sebagai langkah yang rumit.
Fidan turut mendorong agar NATO mengevaluasi kembali hubungan dengan Trump dalam KTT yang dijadwalkan berlangsung di Ankara pada Juli mendatang.
Sebelumnya, Trump menyatakan militer AS akan bekerja sama dengan sejumlah negara untuk memblokir lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Ia juga mengklaim negara-negara Teluk Persia siap mendukung langkah tersebut, meski tidak merinci pihak-pihak yang terlibat. Pihak militer AS kemudian mengklarifikasi bahwa blokade yang direncanakan hanya akan berlaku bagi kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.
Penolakan dari sejumlah sekutu ini disebut memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara AS dan negara-negara Eropa di dalam NATO. Isu tersebut juga mencuat di tengah pernyataan Trump sebelumnya yang mempertimbangkan penarikan Amerika Serikat dari NATO serta pengurangan pasukan AS di Eropa.
Ketegangan kian terasa setelah beberapa negara juga menolak memberikan dukungan terhadap langkah militer AS terhadap Iran, termasuk dengan tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara mereka untuk operasi militer.