Jenazah tokoh nasional Juwono Sudarsono disemayamkan di Kantor Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI), Jakarta Pusat, Minggu (29/3). Suasana persemayaman hingga upacara pelepasan berlangsung khidmat, dengan kehadiran pelayat dari kalangan pejabat negara, keluarga, dan kerabat dekat.
Prosesi tersebut dihadiri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, serta Menteri Pertahanan RI periode 2009–2014 Purnomo Yusgiantoro.
Juwono Sudarsono dikenal sebagai Menteri Pertahanan dari kalangan sipil pertama pada era Reformasi. Sebelumnya, pada masa Orde Baru, jabatan Menteri Pertahanan selalu dipegang oleh militer.
Dalam keterangannya kepada wartawan, SBY menyebut Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik bangsa. Ia juga mengenang kedekatannya dengan Juwono yang telah terjalin sejak SBY masih menjadi perwira muda dan mulai berkomunikasi dengan almarhum saat bertugas sebagai dosen di Seskoad.
SBY menilai Juwono sebagai intelektual dengan gagasan besar, khususnya di bidang hubungan internasional dan pertahanan. Menurutnya, pemikiran Juwono cemerlang dan memberi kontribusi penting bagi Indonesia.
SBY juga menuturkan, kesamaan pandangan antara dirinya dan Juwono menjadi dasar kuat kerja sama keduanya, terutama pada masa Reformasi 1998. Kala itu, keduanya kerap berdiskusi mengenai upaya menyatukan perspektif militer dan sipil, termasuk mendorong agar TNI kembali pada jati diri sebagai kekuatan pertahanan dan tidak terlibat politik praktis.
Kedekatan tersebut berlanjut ketika SBY menjabat sebagai presiden dan menunjuk Juwono sebagai Menteri Pertahanan. SBY menyebut, berbagai langkah strategis dilakukan bersama, termasuk modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) agar kemampuan militer Indonesia terus meningkat di tingkat ASEAN.
SBY turut menyoroti peran Juwono dalam menggagas berdirinya Universitas Pertahanan Indonesia serta pengembangan kawasan misi perdamaian. Ia menyampaikan bahwa gagasan tersebut lahir dari pemikiran agar Indonesia memiliki institusi pendidikan pertahanan sendiri, mengingat pengalaman panjang yang dimiliki bangsa ini.
Selain pertahanan, SBY menegaskan kontribusi Juwono juga besar di bidang diplomasi. Ia menilai pertahanan dan diplomasi sama-sama penting bagi Indonesia di tengah dinamika global, serta menekankan kebutuhan Indonesia akan diplomat yang tangguh, cerdas, dan memahami dunia serta kepentingan nasional.
Di akhir pernyataannya, SBY mengajak semua pihak untuk melanjutkan pemikiran dan perjuangan almarhum, termasuk memperkuat pertahanan dan diplomasi Indonesia.
Juwono Sudarsono meninggal dunia pada usia 84 tahun setelah berjuang melawan stroke selama empat tahun terakhir. Setelah prosesi pelepasan di Kemhan, jenazah direncanakan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

