BERITA TERKINI
Saham Apple Naik Didukung Lonjakan Pengiriman iPhone di China Meski Pasar Melambat

Saham Apple Naik Didukung Lonjakan Pengiriman iPhone di China Meski Pasar Melambat

Saham Apple Inc. menguat 2% pada Jumat, didorong data pengiriman iPhone di China yang menunjukkan kinerja solid di tengah kondisi pasar ponsel pintar yang sedang menantang.

Kenaikan tersebut terjadi saat sektor secara umum masih dibayangi kekhawatiran perlambatan permintaan dan kenaikan biaya komponen. Meski demikian, saham Apple masih tercatat melemah secara year-to-date.

Sentimen positif terhadap Apple menguat setelah Counterpoint Research melaporkan pengiriman iPhone di China naik 20% secara tahunan pada kuartal pertama. Pencapaian ini berbanding terbalik dengan pasar yang lebih luas, ketika total pengiriman ponsel pintar di China justru turun 4% pada periode yang sama.

Counterpoint menyebut permintaan terhadap lini iPhone 17, disertai promosi yang lebih terarah dan dukungan subsidi pemerintah, membantu Apple memperluas pangsa pasar. Apple meraih pangsa 19% dan berada tepat di belakang Huawei yang memimpin dengan 20%.

Posisi Huawei ditopang penjualan kuat di akhir kuartal, termasuk seri Enjoy 90, yang menjadi pangsa pasar tertinggi perusahaan itu sejak akhir 2020.

Kinerja Apple menonjol di saat industri menghadapi tekanan dari kenaikan harga chip memori serta gangguan rantai pasok yang mendorong biaya produksi. Para analis menilai bauran produk premium Apple dan kontrol rantai pasok yang ketat membuat perusahaan lebih mampu mengelola tekanan biaya dibanding sejumlah pesaing.

Counterpoint menilai Apple berada dalam posisi lebih baik untuk menyerap kenaikan biaya komponen dan kemungkinan hanya meneruskan sebagian kenaikan tersebut kepada konsumen. Persepsi merek juga dinilai berperan menjaga permintaan. Ivan Lam, analis senior Counterpoint Research, mengatakan daya tarik Apple tetap kuat di kalangan konsumen China.

“Saat sebagian besar pesaing menaikkan harga, Apple menonjol dari sisi nilai, dengan konsumen China mengetahui produknya bertahan setidaknya tiga tahun,” kata Lam, dikutip dalam laporan Reuters.

Menurut Lam, persepsi daya tahan tersebut membantu Apple menarik pembeli di tengah kenaikan harga yang menekan permintaan, terutama di segmen anggaran ketika pesaing menghadapi margin yang lebih ketat. Sebagai perbandingan, Xiaomi Corp. mengalami penurunan pengiriman 35%, mencerminkan melemahnya performa produk flagship dan strategi harga yang lebih berhati-hati.

Lam juga memperingatkan bahwa kenaikan biaya komponen telah mendorong harga ritel, memengaruhi model lama maupun harga peluncuran perangkat baru. Tren ini diperkirakan membuat pasar ponsel pintar China tetap berada di bawah tekanan hingga kuartal kedua.

Meski Apple membukukan performa kuartalan yang kuat, prospek pasar ponsel pintar China secara umum masih dinilai hati-hati. Counterpoint memperkirakan pengiriman di negara tersebut turun 9% pada 2026, dipengaruhi tekanan biaya yang berlanjut serta basis perbandingan yang lebih berat setelah permintaan tahun lalu terdorong subsidi.

Potensi dukungan permintaan jangka pendek disebut dapat datang dari festival belanja pertengahan tahun “618”.

Di sisi pasar modal, sentimen investor terhadap Apple menunjukkan tanda perbaikan. Bank of America mempertahankan pandangan positif terhadap saham Apple dan menyebutnya sebagai “nama dengan kualitas tertinggi” dalam cakupan mereka. Perusahaan itu menilai Apple tetap menarik sebagai saham berfundamental kuat, ditopang pertumbuhan lini Services yang dinilai tangguh serta siklus produk yang sehat.

Di luar ponsel pintar, Apple juga disebut mendapat dorongan dari meningkatnya minat terhadap aplikasi kecerdasan buatan. Laporan Wall Street Journal menyebut permintaan untuk perangkat AI yang berjalan secara lokal turut mendongkrak penjualan komputer desktop Mac Mini.

Meski tantangan jangka pendek masih ada, kombinasi eksekusi bisnis dan posisi Apple di segmen premium dinilai membantu menopang kinerja sahamnya di tengah tekanan yang masih membayangi pasar secara keseluruhan.