Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) menggerakkan kekuatan militernya melampaui gugusan kepulauan untuk menggelar latihan tempur di Samudra Pasifik Barat. Langkah ini dipandang sebagai tantangan terhadap dominasi Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut.
Komando Teater Timur PLA pada Minggu (19/4) menyatakan gugus tugas angkatan laut yang dipimpin kapal perusak Tipe 052D, Baotou, akan melintasi Saluran Bashi. Jalur ini merupakan titik sempit strategis di dalam rantai pulau pertama, yang kerap disebut sebagai garis pertahanan yang mencakup sekutu-sekutu AS seperti Jepang, Taiwan, dan Filipina untuk membendung ekspansi maritim China.
Militer China menyebut latihan tersebut dirancang untuk menguji kemampuan tempur jarak jauh. PLA juga menegaskan kegiatan itu merupakan bagian dari pelatihan rutin tahunan dan tidak ditujukan kepada negara atau target spesifik.
Pergerakan ini menyusul patroli kesiapan bersama laut dan udara yang dilakukan PLA di Laut China Timur pada Sabtu (18/4), yang disebut bertujuan menguji integrasi kekuatan tempur mereka.
Eskalasi aktivitas militer terjadi di tengah memanasnya hubungan diplomatik Beijing dan Tokyo. Pada Jumat (17/4), China melayangkan protes resmi setelah kapal Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) dilaporkan melintasi Selat Taiwan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut tindakan Jepang sebagai langkah provokatif.
"Masalah Taiwan adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. Kami mendesak pihak Jepang untuk merefleksikan dan memperbaiki kebijakan serta perilaku mereka," kata Guo dalam konferensi pers rutin di Beijing.
Ketegangan di kawasan juga dipicu oleh rencana latihan militer besar-besaran Balikatan 2026 yang melibatkan AS, Filipina, dan Jepang, yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Analis menilai rangkaian uji coba senjata dan pergerakan kapal perang China di Pasifik Barat merupakan upaya Beijing untuk memperkuat posisi tawar sekaligus menunjukkan kekuatan militernya di tengah kepungan aliansi pertahanan Barat di sepanjang rantai pulau pertama.