Laporan AI Index 2026 yang disusun Human-Centered Artificial Intelligence (HAI) Institute di Universitas Stanford menilai Tiongkok hampir menutup kesenjangan dengan Amerika Serikat dalam kinerja bot AI, sembari terus melampaui banyak negara lain dalam jumlah paten, publikasi, serta penerapan robot industri.
Dalam laporan tersebut, Stanford menyoroti penyempitan perbedaan skor Arena, yakni ukuran kinerja relatif model bahasa besar. Pada Mei 2023, model teratas dari AS, GPT-4 milik OpenAI, unggul lebih dari 1.300 poin Arena, sementara model teratas dari Tiongkok berada di bawah 1.000 poin.
Namun pada Maret 2026, selisih itu diproyeksikan menyusut tajam menjadi 39 poin Arena. Model unggulan AS, Claude Opus 4.6 dari Anthropic, hanya unggul sekitar 2,7% dibanding Dola-Seed 2.0 dari Tiongkok.
Meski demikian, AS masih memimpin dalam jumlah model AI teratas, yaitu 50 model dibanding 30 model dari Tiongkok. Di sisi lain, Tiongkok tercatat memiliki porsi kutipan publikasi AI yang lebih besar. Pada 2024, Tiongkok menyumbang 20,6% dari seluruh kutipan AI, sedangkan AS 12,6%.
Keunggulan Tiongkok juga tampak pada penerapan robot industri. Negara tersebut memimpin dunia dengan lebih dari 295.000 instalasi robot industri, hampir sembilan kali lipat dibanding AS yang tercatat 34.200.
Laporan itu juga menggambarkan kebangkitan ekosistem AI Tiongkok, meski disebut menghadapi modal investasi yang lebih kecil dan pembatasan regulasi yang lebih luas. Dorongan baru disebut muncul setelah “momen DeepSeek” pada 2025, yang diikuti peningkatan aliran modal ke perusahaan rintisan AI. Dalam kuartal terakhir yang disebutkan, nilai penawaran umum perdana di Hong Kong dilaporkan mencapai level tertinggi dalam lima tahun, yakni US$110 miliar melalui 40 pencatatan baru.
Dari sisi infrastruktur, Tiongkok disebut berinvestasi pada pasokan listrik, dengan penambahan tahunan yang diklaim melampaui total konsumsi listrik Jerman. Kondisi ini dinilai menyediakan kapasitas besar untuk kebutuhan komputasi AI.
Berbeda dengan Tiongkok, jaringan listrik AS disebut memburuk karena kurangnya investasi selama beberapa dekade sehingga lebih rentan terhadap cuaca ekstrem dan bencana alam. Goldman Sachs, menurut laporan tersebut, memperkirakan kondisi ini dapat menjadi hambatan yang mengganggu pertumbuhan AI di AS.
Meski menghadapi tantangan infrastruktur, investasi swasta AI di AS tetap jauh lebih besar dibanding Tiongkok. Pada 2025, investasi swasta AI di AS dilaporkan mencapai US$285,9 miliar, lebih dari 23 kali lipat investasi di Tiongkok yang sebesar US$12,4 miliar. AS juga mendanai 1.953 perusahaan AI baru pada tahun sebelumnya, lebih dari 10 kali lipat jumlah perusahaan AI di negara lain mana pun.
Di sisi talenta, laporan Stanford mencatat arus peneliti AI yang pindah ke AS menurun 89% sejak 2017. Penurunan itu disebut semakin cepat, dengan penurunan 80% dalam satu tahun terakhir. Meski jumlah peneliti yang masuk ke AS masih lebih banyak daripada yang keluar, laporan tersebut menilai arus profesional ke AS melambat secara signifikan.
Para ekonom memperingatkan bahwa jika tren kehilangan keahlian berlanjut, keunggulan AS dalam menarik talenta dapat semakin tergerus. Laporan lain pada April 2025 dari Hoover Institute bekerja sama dengan Stanford HAI menyebut Tiongkok telah membangun basis talenta domestik yang besar. Hampir semua peneliti di balik lima makalah fundamental DeepSeek dilaporkan dididik atau dilatih di Tiongkok.
Laporan yang sama juga menyebut sekitar seperempat peneliti DeepSeek pernah dilatih di lembaga-lembaga Amerika, tetapi sebagian besar telah kembali ke Tiongkok, sehingga terjadi “transfer pengetahuan satu arah” yang menguntungkan negara tersebut. Menurut para penulis, tren ini menjadi tantangan mendasar bagi kepemimpinan teknologi AS yang tidak dapat diatasi hanya melalui kontrol ekspor dan investasi komputasi.
Selain itu, disebutkan pula bahwa Tiongkok mengaktifkan klaster komputasi AI terbesar di Zhengzhou untuk mendorong riset ilmiah, dengan sistem yang dikembangkan di dalam negeri dari chip hingga perangkat lunak.