Lanskap konflik global dinilai mengalami pergeseran. Jika sebelumnya pertarungan lebih banyak ditentukan oleh kekuatan militer konvensional, kini perebutan pengaruh disebut semakin mengarah ke ruang digital dan menyasar pikiran manusia, terutama generasi muda.
Juru bicara Komite Investigasi Rusia, Svetlana Petrenko, menyatakan ada upaya sistematis dari badan intelijen asing untuk merekrut remaja agar terlibat dalam aktivitas sabotase dan terorisme. Menurutnya, perekrutan dilakukan melalui media sosial dan aplikasi perpesanan.
“Dinas intelijen dari negara lain terus melibatkan remaja dalam aksi sabotase dan terorisme menggunakan media sosial dan aplikasi perpesanan,” kata Petrenko seperti dikutip kantor berita TASS.
Petrenko mengatakan para perekrut memanfaatkan keluguan serta keterbukaan remaja terhadap dunia digital. Ia menyebut pendekatan kerap dilakukan secara halus melalui platform komunikasi yang akrab digunakan generasi muda.
“Para perekrut memanfaatkan keluguan remaja untuk melibatkan mereka dalam kejahatan berat,” ujarnya.
Ia juga mengimbau orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas anak, termasuk pergaulan mereka di internet, serta meningkatkan kesadaran tentang risiko hukum bila terlibat dalam tindakan ilegal.
Peringatan tersebut menegaskan bahwa ruang digital, termasuk media sosial, kini dipandang sebagai arena operasi baru bagi aktor negara maupun non-negara. Dalam konteks ini, batas antara propaganda, manipulasi, dan perekrutan disebut semakin kabur.
Namun, pernyataan dari pihak Rusia juga berada dalam konteks ketegangan geopolitik yang lebih luas. Dalam situasi hubungan Rusia dan Barat yang memanas, narasi mengenai “intelijen asing” kerap muncul sebagai bagian dari perang informasi yang berjalan seiring dengan konflik di lapangan. Karena itu, klaim tersebut perlu dibaca secara kritis, baik sebagai gambaran ancaman yang dikemukakan maupun sebagai bagian dari dinamika komunikasi strategis antarnegara.