Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan di tengah dinamika ekonomi global, seiring penguatan dolar Amerika Serikat dan perubahan arus modal internasional. Situasi ini disebut sebagai fenomena yang juga dialami banyak mata uang negara berkembang, sementara fundamental perekonomian Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan melalui inflasi yang stabil, pertumbuhan ekonomi yang terjaga, dan sistem keuangan yang semakin kuat.
Pergerakan rupiah dinilai mencerminkan integrasi pasar keuangan global. Ketika investor meningkatkan minat pada aset berbasis dolar, arus modal internasional dapat bergeser mengikuti sentimen pasar. Namun, tekanan tersebut lebih dikaitkan dengan perubahan sentimen global ketimbang pelemahan fundamental ekonomi domestik, di tengah kinerja sektor riil yang disebut tetap produktif serta kebijakan ekonomi yang berjalan konsisten dan adaptif.
Untuk menjaga stabilitas, pemerintah bersama Bank Indonesia memperkuat koordinasi kebijakan guna menahan volatilitas nilai tukar dan mempertahankan kepercayaan pelaku pasar. Instrumen kebijakan moneter dan stabilisasi pasar dijalankan secara terukur agar pergerakan rupiah tetap selaras dengan kondisi fundamental ekonomi nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyinggung potensi tekanan ekonomi akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menyatakan pemerintah akan menyiapkan kebijakan untuk meredam dampak lonjakan harga minyak apabila pergerakan harga sudah berada di luar kendali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia juga menekankan pentingnya menjaga fundamental ekonomi agar tetap kuat sehingga investor diharapkan tidak panik terhadap pergerakan pasar saat ini, seraya menyebut sejumlah indikator menunjukkan perekonomian nasional berada dalam kondisi yang baik.
Dari sisi pasar modal, Penjabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyatakan infrastruktur dan peraturan BEI telah siap menghadapi gejolak pasar saham akibat eskalasi konflik tersebut. Ia menilai volatilitas yang terjadi saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal global yang juga dirasakan oleh bursa saham di berbagai negara.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menilai pandangan otoritas moneter bahwa nilai tukar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia memiliki dasar yang kuat. Ia merujuk sejumlah indikator, antara lain penyaluran kredit perbankan pada Januari 2026 yang tercatat tumbuh sekitar 9,96 persen secara tahunan, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang mencapai sekitar 5,11 persen.
David juga menyoroti kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang dinilai dapat membantu memperkuat stabilitas nilai tukar. Dengan kewajiban sebagian hasil ekspor sumber daya alam disimpan lebih lama di dalam negeri, likuiditas dolar di sistem keuangan domestik berpotensi meningkat.
Dalam jangka panjang, penguatan fundamental ekonomi disebut tetap menjadi kunci menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk melalui dorongan hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta perluasan basis ekspor nasional. Dengan kebijakan yang konsisten dan terukur, tekanan eksternal terhadap rupiah diharapkan dapat dikelola tanpa memicu gejolak yang lebih besar.

