JAKARTA — Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, mengatakan pemerintah terus memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan regulasi, pengurangan birokrasi, peningkatan kepastian hukum, serta penguatan tata kelola BUMN. Langkah itu ditempuh untuk menarik investasi besar guna mengejar target pertumbuhan ekonomi 8%.
Pernyataan tersebut disampaikan Rosan dalam acara Kadin Indonesia Monthly Diplomatic Economic Breakfast di Auditorium Lantai 3 Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (08/05/2026). Acara yang diinisiasi Kadin Indonesia itu dihadiri jajaran Kadin, puluhan duta besar dan anggota korps diplomatik, pelaku usaha, serta pejabat pemerintah.
Dalam sambutannya, Rosan menyinggung kondisi global yang dinilainya sedang menghadapi tekanan akibat ketegangan geopolitik dan geoekonomi, gangguan rantai pasok, proteksionisme, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Meski begitu, ia menyebut Indonesia masih mampu menjaga momentum pertumbuhan, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal ini sebesar 5,61%.
Rosan menilai investasi kini menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumsi domestik masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB), namun kontribusi investasi terus meningkat. Ia menyebut kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 1,79 poin persentase dari total pertumbuhan 5,61%, atau sekitar 31%–32%.
Menurut Rosan, pemerintah tidak ingin berhenti pada pertumbuhan sekitar 5%. Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%.
Untuk mencapai target tersebut, Rosan menyebut Indonesia membutuhkan investasi sekitar US$789,9 miliar dalam lima tahun ke depan. Ia membandingkan angka itu dengan realisasi investasi selama 10 tahun terakhir yang mencapai sekitar US$515,6 miliar. Adapun target investasi pada 2026 dipatok sebesar US$123,7 miliar. Rosan menyatakan target itu dapat dicapai jika pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional memperkuat kolaborasi.
Rosan juga memaparkan capaian investasi pada kuartal I-2026 yang disebut mencapai sekitar US$30,2 miliar dan menciptakan sekitar 700 ribu lapangan kerja baru. Ia menambahkan, Singapura masih menjadi investor asing terbesar Indonesia selama satu dekade terakhir, diikuti Hong Kong, China, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Belanda.
Untuk mempercepat arus investasi, Rosan menegaskan pemerintah terus memangkas aturan yang dinilai tidak perlu, mengurangi hambatan birokrasi lintas sektor dan lintas level pemerintahan, serta meningkatkan kepastian hukum bagi investor domestik maupun asing. Ia menekankan reformasi regulasi dibutuhkan karena investasi jangka panjang memerlukan kepastian, efisiensi, dan stabilitas.
Selain reformasi regulasi, pemerintah juga mendorong hilirisasi sebagai pendorong investasi. Rosan menyebut sekitar 30% investasi Indonesia berasal dari sektor hilirisasi, terutama mineral. Namun, menurutnya, pemerintah tidak hanya berfokus pada hilirisasi tambang seperti nikel, bauksit, dan tembaga, melainkan juga memperluas hilirisasi ke sektor perkebunan, kehutanan, migas, perikanan, dan kelautan.
Rosan menyatakan Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global, antara lain karena menguasai sekitar 42% cadangan nikel dunia. Ia juga menyinggung posisi Indonesia sebagai produsen sejumlah komoditas seperti rumput laut, udang, dan kelapa. Ia menambahkan pemerintah mulai mendorong hilirisasi kelapa, dan menyebut salah satu investasi hilirisasi kelapa senilai US$100 juta dapat menciptakan sekitar 10 ribu lapangan kerja.
Dalam kesempatan yang sama, Rosan menjelaskan perkembangan Danantara Indonesia sebagai sovereign wealth fund nasional. Ia menyebut Danantara memiliki struktur berbeda karena mengonsolidasikan seluruh BUMN Indonesia di bawah satu entitas investasi nasional.
Rosan mengatakan, pada awalnya pemerintah memperkirakan sekitar 700 perusahaan negara akan dikonsolidasikan. Namun setelah pendataan, jumlahnya disebut mencapai sekitar 1.044 perusahaan, dengan sebagian besar dinilai tidak berjalan baik dan bahkan merugi. Karena itu, Danantara melakukan restrukturisasi, termasuk menutup sekitar 145 perusahaan dalam satu tahun terakhir.
Menurut Rosan, fokus Danantara bukan hanya memperbesar aset, melainkan meningkatkan kualitas tata kelola, transparansi, akuntabilitas, dan sumber daya manusia. Ia menyebut Danantara kini mengelola aset mendekati US$1 triliun, namun menekankan ukuran aset bukan tujuan utama.
Rosan menyebut tantangan terbesar BUMN saat ini berada pada penguatan human capital. Ia mengatakan pemerintah membuka peluang lebih besar bagi tenaga profesional asing untuk duduk di level manajemen BUMN guna mempercepat transfer pengetahuan dan peningkatan standar global. Ia mencontohkan Garuda Indonesia yang disebut telah memiliki ekspatriat di level manajemen setelah pemerintah merevisi aturan pengelolaan BUMN.
Rosan juga menyampaikan Danantara membangun kemitraan internasional dengan sejumlah sovereign wealth fund dan lembaga global, termasuk China Investment Corporation, JBIC Jepang, dan Qatar. Selain itu, Danantara disebut memperoleh fasilitas revolving credit sekitar US$10 miliar dari bank internasional seperti DBS, HSBC, Standard Chartered, dan UOB.
Dari sisi pemeringkatan, Rosan mengatakan Danantara memperoleh rating BBB dengan outlook stabil dari Fitch dan rating AAA dari Pefindo, serta sedang menjalani proses pemeringkatan oleh S&P dan Moody’s.
Menurut Rosan, kehadiran Danantara diharapkan memperkuat kepercayaan investor asing karena Indonesia memiliki mitra investasi domestik yang kuat, transparan, dan berkomitmen pada investasi jangka panjang. Ia menegaskan Danantara ditujukan untuk menjadi katalis kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta. Di akhir sambutannya, Rosan kembali menekankan pentingnya stabilitas dan perdamaian sebagai fondasi investasi jangka panjang.