BERITA TERKINI
Rencana Pembatasan WeChat di AS Picu Kekhawatiran Perantau China: Komunikasi, Privasi, dan Relasi Dua Negara

Rencana Pembatasan WeChat di AS Picu Kekhawatiran Perantau China: Komunikasi, Privasi, dan Relasi Dua Negara

WeChat selama ini menjadi lebih dari sekadar aplikasi percakapan bagi perantau China di berbagai negara. Aplikasi tersebut kerap menjadi saluran utama untuk tetap terhubung dengan keluarga dan teman di kampung halaman, sekaligus dipakai untuk berbagai aktivitas harian seperti berbelanja, bermain gim, hingga kencan.

Namun, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir pekan lalu memerintahkan perusahaan-perusahaan AS menghentikan bisnis dengan WeChat memicu kekhawatiran di kalangan warga China yang tinggal di Amerika. Dalam perintah eksekutifnya, Trump menyebut WeChat sebagai ancaman keamanan nasional dan menuduh aplikasi itu mengumpulkan data pengguna dalam skala luas, sehingga dinilai mengancam data pribadi dan hak milik informasi warga Amerika.

Perusahaan induk WeChat, Tencent, diperintahkan untuk menjual aplikasi tersebut pada pertengahan September atau menghadapi larangan beroperasi di Amerika. Di sisi lain, pemerintah China menilai langkah AS itu sebagai penggunaan alasan keamanan nasional untuk menundukkan China.

Sejumlah perantau China di AS mengatakan kebijakan itu mengejutkan dan menimbulkan kecemasan, bukan hanya terkait komunikasi dengan keluarga, tetapi juga menyangkut memburuknya hubungan China–Amerika.

Jennie, 21 tahun, mahasiswa di Universitas California, mengaku mengetahui kebijakan tersebut saat sedang menggunakan WeChat. Ia mengatakan semula tidak percaya, lalu merasa marah. Menurutnya, ia menghabiskan sekitar empat jam per hari menggunakan WeChat untuk berkomunikasi dengan orang-orang di AS dan China, sekaligus membaca artikel dari akun publik media, pembuat konten, dan kalangan pengusaha asal China.

Jennie juga menceritakan pengalaman penyensoran di platform itu. Pada peringatan Pembantaian Tiananmen, ia pernah mengunggah kalimat peringatan, tetapi unggahan tersebut tiba-tiba dihapus dan akun publiknya lenyap. Ia mengaku sangat khawatir WeChat dapat menyebarkan informasi tentang dirinya kepada pemerintah China. Meski demikian, ia menolak gagasan pemblokiran total oleh pemerintah AS.

“Ini akan mirip seperti apa yang dilakukan China—penyensoran,” ujarnya. Jennie menilai seharusnya ada alternatif lain untuk mengelola ancaman yang dikaitkan dengan WeChat tanpa harus melarangnya sepenuhnya. Ia mengatakan datang belajar ke AS karena menganggap negara itu terbuka, tetapi kebijakan tersebut membuatnya kecewa.

Kekhawatiran serupa disampaikan Miley Song, seorang imigran China di California. Ia mengaku awalnya melihat AS sebagai negara yang inklusif secara budaya, tetapi menilai kebijakan ini seperti “sinyal tidak menginginkan” imigran China. Song, yang berusia 30 tahun, mengatakan WeChat penting untuk berhubungan dengan orang tuanya di China, yang ikut panik setelah mendengar perintah eksekutif tersebut.

Meski begitu, Song menyatakan tetap optimistis karena menilai larangan itu “tidak jelas” dan mungkin sulit diberlakukan sepenuhnya. Ia justru lebih mengkhawatirkan masa depannya di Amerika. Dalam konteks pandemi dan pemilu presiden yang sedang berlangsung, ia menduga pemerintahan Trump berupaya mengalihkan perhatian dari meningkatnya angka kematian akibat Covid-19 dan menurunnya dukungan menjelang pemilu.

Kekhawatiran juga muncul dari warga China yang telah kembali ke negaranya setelah lama tinggal dan belajar di AS. Rachel, yang pernah tinggal 10 tahun di Amerika dan kini berada di Shanghai, mengatakan WeChat sudah “tertanam sepenuhnya” dalam kehidupan sehari-hari di China. Ia menggambarkan bahwa aktivitas sederhana seperti membeli susu kerap dilakukan melalui WeChat Pay atau AliPay dengan memindai kode QR, sementara banyak toko tidak menerima uang tunai.

Rachel menambahkan WeChat juga pernah digunakan sebagai aplikasi pelacak yang membantu pemerintah China mengendalikan penyebaran virus corona. Menurutnya, perintah Presiden Trump mungkin berdampak kecil pada aktivitas harian di China, tetapi dapat membuat komunikasi dengan orang-orang di Amerika semakin sulit. Ia mengatakan sebagian orang mulai menjajaki alternatif seperti aplikasi Line atau menggunakan VPN.

“Sungguh menyedihkan sampai ini terjadi,” katanya. Rachel mengaku berusaha melihat sisi baik dan buruk dari masing-masing negara dan ingin tetap netral, tetapi situasi tersebut membuatnya semakin sulit untuk mempertahankan posisi itu.