Wall Street bergerak di bawah dua arus besar yang saling bertolak belakang sepanjang pekan lalu: meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah dan berlanjutnya euforia terhadap saham-saham bertema kecerdasan buatan (AI). Ketegangan memanas setelah Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan “dengan level yang jauh lebih tinggi” bila tidak menyetujui proposal damai dengan Amerika Serikat. Namun, pada saat yang sama, laporan menyebut kedua pihak dikabarkan kian dekat menuju kesepakatan yang antara lain mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pelonggaran sanksi ekonomi.
Ancaman tersebut sempat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan memicu volatilitas harga minyak. Meski demikian, pasar saham AS relatif bertahan karena perhatian investor lebih tertuju pada momentum pertumbuhan AI dan musim laporan kinerja (earnings) perusahaan teknologi besar.
Secara mingguan, indeks S&P 500 naik 2,27% dan Nasdaq Composite melesat 6,28%, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,44%. Di antara saham yang menguat paling besar dalam sepekan, Micron (MU) naik 45,92%, Intel (INTC) 34,03%, Fortinet (FTNT) 32,45%, AMD (AMD) 29,36%, dan Dell (DELL) 24,90%.
Di sisi geopolitik, Trump menyebut operasi militer “Operation Epic Fury” akan dihentikan jika Iran menerima poin-poin kesepakatan yang sedang dinegosiasikan. Laporan juga menyebut adanya memorandum 14 poin yang dibahas, mencakup moratorium pengayaan nuklir Iran, pencabutan blokade pelayaran, serta normalisasi jalur perdagangan energi global. Harapan meredanya krisis energi global sempat mendorong reli saham dan menekan harga minyak, meski retorika Trump yang tetap agresif memperlihatkan tekanan militer masih menjadi bagian dari strategi negosiasi Washington.
Perkembangan di Selat Hormuz turut menjadi perhatian pasar. Upaya membuka kembali jalur energi global disebut mulai menunjukkan hasil setelah kapal milik Maersk berhasil melintasi selat tersebut di bawah perlindungan militer Amerika Serikat. Keberhasilan transit ini dinilai memberi sinyal awal normalisasi perdagangan, tetapi situasi tetap rapuh seiring adanya laporan serangan drone dan misil Iran ke Uni Emirat Arab serta klaim militer AS yang menenggelamkan kapal Iran.
Selat Hormuz memiliki peran strategis karena sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia biasanya melewati jalur itu. Konflik AS-Iran sempat mendorong harga minyak melampaui US$110 akibat kekhawatiran gangguan pasokan, sebelum pasar mereda ketika investor menilai jalur negosiasi masih terbuka.
Di tengah dinamika tersebut, saham-saham teknologi dan AI seperti Amazon, Meta Platforms, dan AMD terus menguat. Investor menilai lonjakan belanja AI oleh hyperscaler masih berada pada fase awal ekspansi, memperkuat keyakinan bahwa tema AI tetap menjadi motor utama penggerak pasar.
Namun, sejumlah catatan kehati-hatian mulai mengemuka. Goldman Sachs menilai pertumbuhan laba indeks S&P 500 pada kuartal pertama 2026 terlihat lebih kuat dari kondisi riil ekonomi korporasi AS karena didorong besar oleh keuntungan investasi milik Amazon dan Google. Secara headline, laba S&P 500 disebut tumbuh hampir 25%, tetapi setelah mengeluarkan keuntungan investasi terkait AI dan aset strategis kedua perusahaan tersebut, Goldman memperkirakan pertumbuhan “sebenarnya” sekitar 16%—masih solid, namun lebih rendah dari persepsi pasar.
Penilaian itu mempertegas kekhawatiran bahwa reli pasar semakin bergantung pada segelintir mega cap bertema AI, dengan pertumbuhan laba banyak ditopang capital gain dan keuntungan investasi, bukan pertumbuhan organik yang merata. Di saat yang sama, pasar juga mencermati belanja besar untuk data center, GPU, dan infrastruktur AI yang meningkat agresif, sementara monetisasi jangka panjangnya dinilai belum sepenuhnya terbukti.
Dengan kombinasi ancaman perang, volatilitas energi, dan dominasi saham AI, pasar dinilai memasuki fase yang sangat dipengaruhi berita utama (headline-driven). Optimisme terhadap AI masih menjadi mesin utama reli Wall Street, tetapi kegagalan diplomasi di Timur Tengah atau tanda pelemahan monetisasi AI berpotensi memicu koreksi tajam, terutama ketika valuasi pasar kembali mendekati level premium historis.
Di level emiten, beberapa saham menjadi sorotan. Disney menguat setelah membukukan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi, terutama didorong pemulihan bisnis streaming dan taman hiburan. AMD melonjak usai menyampaikan outlook optimistis untuk permintaan AI accelerator dan data center GPU, meski pasar tetap mencermati risiko perang harga, kebutuhan belanja modal tinggi, serta pembatasan ekspor chip AS ke China. Apple tertinggal dibanding Big Tech lain karena investor menilai roadmap AI perusahaan belum seagresif para pesaing, ditambah laporan penjualan iPhone di China yang masih lemah.
Amazon menguat seiring pertumbuhan AWS yang kembali akseleratif berkat lonjakan AI workload dan permintaan cloud dari korporasi, sementara Meta kembali disorot karena perkiraan peningkatan belanja modal AI ke level tertinggi dalam sejarah perusahaan, di tengah upaya menyeimbangkan pengeluaran dengan pertumbuhan pendapatan iklan. Di sektor perbankan, saham JPMorgan bergerak stabil cenderung menguat setelah CEO Jamie Dimon kembali mengingatkan risiko stagflasi dan ketidakpastian geopolitik, meskipun fundamental ekonomi AS dinilai masih solid.