Pemerintah Qatar menegaskan tidak terlibat langsung dalam konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, di tengah meningkatnya eskalasi perang di kawasan Timur Tengah.
Seorang juru bicara menyatakan Doha tidak mengambil bagian dalam konflik tersebut, namun tetap menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk meredakan ketegangan. “Qatar tidak secara langsung memediasi antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi kami mendukung semua upaya diplomatik untuk mengakhiri perang,” ujarnya, seperti dilaporkan Reuters pada 24 Maret 2026.
Pernyataan itu menegaskan posisi Qatar yang memilih tidak terlibat secara militer, berbeda dengan dinamika kawasan yang memanas akibat serangan balasan antara Iran dan sekutunya dengan kekuatan Barat.
Di saat yang sama, Qatar mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan negaranya akan terus berupaya menurunkan eskalasi konflik. “Kami akan terus berbicara dengan pihak Iran dan berupaya mencari de-eskalasi,” ujarnya dalam wawancara yang dikutip Reuters.
Qatar juga sejak awal memperingatkan bahwa konflik yang tidak dikendalikan berpotensi berkembang menjadi perang regional yang lebih luas. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut eskalasi yang terjadi saat ini sebagai konsekuensi dari konflik yang dibiarkan tanpa penyelesaian selama beberapa tahun terakhir.
Meski mengambil jalur diplomasi, Qatar tetap terdampak langsung oleh situasi keamanan yang memburuk. Serangan rudal dan drone dari Iran sempat menargetkan infrastruktur vital di negara itu, yang dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas energi utama serta mengganggu ekspor gas alam.
Dalam beberapa hari terakhir, serangan drone yang menargetkan wilayah Qatar juga masih terjadi, meski disebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara negara tersebut. Situasi ini menunjukkan keamanan kawasan masih belum stabil.
Sejumlah analis Timur Tengah menilai sikap Qatar mencerminkan upaya menjaga keseimbangan di tengah konflik yang semakin kompleks. Namun, mereka mengingatkan perbedaan sikap antarnegara Arab—antara yang memilih jalur militer, diam, atau diplomasi—berpotensi memperlihatkan fragmentasi kekuatan di kawasan.
Dalam analisis yang dikutip media Arab, kondisi tersebut dinilai dapat melemahkan posisi kolektif dunia Arab dalam merespons konflik, sekaligus berpotensi mengurangi efektivitas dukungan regional terhadap kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah.

