Purbaya menilai proyeksi kenaikan harga minyak dunia hingga US$200 per barel tidak realistis. Ia menjelaskan, pergerakan harga minyak sangat dipengaruhi oleh siklus yang bergantung pada keseimbangan permintaan serta kondisi ekonomi global.
Menurutnya, ketika harga minyak terlalu tinggi, daya beli akan menurun. Kondisi itu pada akhirnya melemahkan permintaan sehingga harga berpotensi kembali terkoreksi.
“Saya bertaruh sama orang di depan umum. Mereka bilang US$200-200 [per barel], saya bilang enggak, US$150 habis itu jatuh,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah terus memantau dinamika harga minyak dunia dan menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, Purbaya menyatakan tekanan akibat kenaikan harga minyak akan dikelola melalui APBN agar tidak langsung berdampak pada masyarakat, termasuk untuk menjaga kebijakan harga energi tetap terkendali.

