Ketua Umum FOKAL IMM Kalimantan Timur, Masykur Sarmian, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang hasil riset Universitas Harvard yang menempatkan Indonesia di peringkat teratas dalam kebahagiaan dan optimisme rakyat menjadi perhatian luas. Pernyataan itu disampaikan Presiden saat Annual Meeting World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
Menurut Masykur, informasi tersebut tidak sekadar kabar baik, melainkan gambaran kondisi sosial masyarakat di tengah tekanan global, ketidakpastian ekonomi, dan dinamika geopolitik. Ia menekankan bahwa temuan semacam itu semestinya diikuti respons yang berlandaskan etika kepemimpinan.
Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo menegaskan survei tersebut dilakukan secara serius dan bukan “abal-abal”. Masykur menilai penegasan itu menunjukkan bahwa modal utama Indonesia tidak hanya berada pada indikator ekonomi, tetapi juga pada daya tahan psikologis kolektif atau social resilience. Ia menyebut kebahagiaan dan optimisme berkaitan dengan produktivitas, kohesi sosial, serta kepatuhan publik terhadap agenda pembangunan.
Masykur juga menyinggung contoh negara-negara Nordik yang menjadikan indeks kebahagiaan sebagai salah satu kompas kebijakan. Jika temuan riset itu benar, ia menilai Indonesia sedang memiliki aset sosial yang bernilai strategis.
Ia kemudian mendorong agar pengakuan di level global ditanggapi secara setara di dalam negeri. Salah satu bentuknya, kata Masykur, adalah apresiasi terbuka Presiden kepada rakyat melalui pidato kenegaraan yang merangkul, disiarkan luas, dan disampaikan secara tulus. Ia menekankan agar apresiasi itu tidak berubah menjadi klaim keberhasilan elite, melainkan mengembalikan kehormatan kepada masyarakat.
Dalam tulisannya, Masykur menyebut apresiasi itu layak ditujukan kepada berbagai kelompok yang bertahan dalam situasi ekonomi dan sosial yang menantang, mulai dari pekerja, petani, ibu rumah tangga, hingga anak muda. Ia mengaitkannya dengan teori legitimasi demokratis, di mana pengakuan atau recognition dipandang sebagai “mata uang” kepercayaan publik. Ia menilai ucapan terima kasih yang jujur dapat memperbesar energi sosial yang sudah hidup di masyarakat.
Masykur juga mendorong Presiden menyebut peran organisasi kemasyarakatan Islam, ulama, tokoh lintas iman, dan pemimpin komunitas yang dinilai turut merawat optimisme rakyat. Ia berpendapat bahwa dalam konteks Indonesia, agama berfungsi sebagai pemberi makna yang ikut menopang kebahagiaan melalui ceramah, khutbah, dan majelis yang menumbuhkan syukur, kesabaran, serta empati.
Namun, ia mengingatkan agar apresiasi tidak berhenti pada simbol. Menurutnya, kebahagiaan dan optimisme perlu dijaga melalui kebijakan yang adil, seperti pengendalian harga, layanan publik yang bermartabat, pendidikan yang inklusif, serta penegakan hukum yang konsisten. Ia menilai optimisme tanpa keadilan berisiko berubah menjadi kekecewaan.
Selain itu, Masykur menekankan pentingnya komitmen moral kenegaraan dalam menjaga hak-hak dasar rakyat, termasuk hak politik yang lahir dari perjalanan reformasi. Ia menyoroti pemilihan kepala daerah oleh rakyat sebagai simbol harga diri politik warga negara, dan memperingatkan bahwa perubahan mekanisme tanpa kehendak rakyat dapat menjadi retakan dalam perjanjian sosial pasca-otoritarianisme.
Ia juga menyinggung soal keadilan fiskal di tengah tekanan ekonomi. Menurut Masykur, negara perlu memastikan rakyat tidak menjadi penopang paling empuk bagi beban anggaran. Ia menekankan bahwa efisiensi seharusnya dimulai dari belanja negara, perampingan birokrasi, penutupan kebocoran, dan koreksi terhadap privilese.
Di bagian akhir, Masykur menilai momen Davos memberi pelajaran bahwa Indonesia tidak hanya dilihat dari potensinya, tetapi juga “dirasakan karena jiwanya”. Ia berpendapat, jika kebahagiaan dan optimisme rakyat benar-benar tinggi, maka tugas negara adalah menjaga kondisi itu tetap hidup dengan menghormati rakyat, mengakui para penjaga makna di masyarakat, dan menautkan kebijakan pada rasa terima kasih.
Tulisan tersebut merupakan opini penulis dan menjadi tanggung jawab penulis.

