Presiden Prabowo Subianto menilai krisis global yang dipicu dinamika geopolitik justru mendorong Indonesia mempercepat langkah menuju swasembada pangan dan energi. Penilaian itu disampaikan Presiden saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat.
Menurut Presiden, situasi global saat ini memaksa pemerintah mengakselerasi langkah-langkah strategis yang sebenarnya telah direncanakan sejak lama. Ia menegaskan, agenda swasembada pangan dan swasembada energi sudah menjadi arah kebijakan, namun kini harus dijalankan lebih cepat dan intensif.
Presiden juga menekankan pentingnya pengalihan menuju energi terbarukan serta pemanfaatan sumber energi yang berasal dari dalam negeri. Ia menyebut berbagai tantangan yang muncul dapat menjadi momentum untuk mempercepat transformasi nasional, sekaligus menuntut kerja yang lebih keras dari seluruh jajaran pemerintah.
Dalam pemaparannya, Presiden menyampaikan Indonesia memiliki beragam sumber daya yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif, termasuk bahan bakar nabati dari kelapa sawit, singkong, dan jagung. Selain itu, ia menuturkan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan lain seperti panas bumi dan tenaga air, termasuk hidro dan mini hidro.
Pemerintah, kata Presiden, menargetkan pembangunan kapasitas tenaga surya hingga 100 GigaWatt (GW) dalam dua tahun ke depan. Kebutuhan lahan untuk proyek tersebut diperkirakan sekitar 100 ribu hektare, dengan sebagian potensi lahan telah teridentifikasi.
Di sisi lain, Presiden turut menyinggung penemuan ladang gas raksasa baru di Andaman, lepas pantai utara Aceh, yang dinilai dapat memperkuat ketahanan energi nasional. Ia menyatakan ladang gas tersebut akan dikerjakan dalam waktu singkat oleh Mubadala. Presiden juga menyebut rencana pembukaan ladang Masela yang disebutnya sebagai ladang gas yang sangat besar.
Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, Presiden Prabowo menyatakan optimistis Indonesia mampu menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat fondasi kemandirian nasional di sektor pangan dan energi.

