Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi sengketa antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap rantai pasok global, termasuk stabilitas ekonomi di Jakarta. Selat Hormuz disebut sebagai jalur penting perdagangan energi dunia yang menyalurkan seperlima ekspor minyak bumi.
Pramono mengatakan gangguan di wilayah tersebut dapat memengaruhi pengiriman barang dan memicu kenaikan harga barang konsumsi di Ibu Kota. “Jika Selat Hormuz ditutup pasti akan berdampak pada supply chain atau rantai pengiriman barang dan barang-barang mengalami kenaikan harga,” ujar Pramono saat membuka JIS Ramadhan Festival 2026 di Jakarta, Minggu, 1 Maret 2026.
Meski demikian, Pramono meminta warga tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong atau panic buying. Ia menegaskan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memprioritaskan upaya menjaga ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat, terutama menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.
Berdasarkan data Pemprov DKI, stok sejumlah komoditas utama seperti beras, cabai merah, hingga daging disebut berada dalam kondisi lebih dari cukup. Pramono juga menyatakan pihaknya terus melakukan pengawasan di pasar-pasar induk untuk memantau pergerakan harga dan laju inflasi, sehingga langkah antisipatif dapat segera diambil apabila terjadi anomali harga.
“Kami pantau di semua pasar utama di Jakarta belum terjadi kenaikan,” tegasnya.
Kekhawatiran terhadap dampak konflik di kawasan turut disampaikan Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Ia menilai serangan Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari, berpotensi mendorong harga minyak dunia dari kisaran 70 dolar AS menjadi 80 dolar AS per barel. Faisal juga menyebut, apabila pasokan di Selat Hormuz benar-benar terhenti, harga minyak mentah dunia diperkirakan dapat menembus 100 dolar AS per barel.
“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” kata Faisal.

