BERITA TERKINI
Praktisi Nilai Ketahanan Energi Indonesia Cukup Kuat di Tengah Gejolak Geopolitik Timur Tengah

Praktisi Nilai Ketahanan Energi Indonesia Cukup Kuat di Tengah Gejolak Geopolitik Timur Tengah

Jakarta — Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara berlebihan di tengah meningkatnya dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.

Praktisi energi dan infrastruktur Tommy Jamail Jr menilai sistem energi Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk menghadapi dinamika global, termasuk potensi gejolak harga minyak dunia akibat konflik geopolitik. Menurutnya, perubahan situasi geopolitik dapat memengaruhi pasar energi global, tetapi tidak serta-merta berdampak langsung pada ketersediaan BBM di dalam negeri.

“Secara sistem, infrastruktur energi Indonesia telah dirancang untuk menghadapi berbagai dinamika eksternal. Distribusi dan pengelolaan pasokan BBM dilakukan dengan perencanaan yang matang sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan energi,” kata Tommy saat menjadi salah satu pembicara pada Energy Iftar Forum 2026 yang diadakan Energy Hub di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Tommy menjelaskan, tantangan utama sektor energi Indonesia lebih banyak berkaitan dengan faktor geografis dan distribusi. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, ia mengatakan sistem logistik energi nasional dirancang untuk memastikan pasokan tetap terjaga di berbagai wilayah, termasuk pada periode lonjakan konsumsi seperti menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Ia juga menyebut Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi volatilitas harga minyak global. Tommy mencatat sejumlah krisis energi dunia dalam beberapa dekade terakhir, mulai dari krisis minyak 1973 akibat embargo minyak yang diprakarsai Arab Saudi terhadap negara-negara pendukung Israel pada Perang Yom Kippur, krisis ekonomi 2008 yang turut berdampak pada pasokan minyak, krisis akibat perang Rusia-Ukraina pada 2022, hingga krisis terbaru terkait ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

“Sejarah Indonesia sudah sangat panjang menghadapi krisis. Saya yakin kita bisa menghadapi itu dengan baik,” ujar Tommy.

Meski demikian, ia berharap pelaku industri energi memastikan sistem distribusi dan manajemen pasokan siap menghadapi peningkatan permintaan yang biasanya terjadi pada periode Idul Fitri. Menurutnya, lonjakan konsumsi saat Idul Fitri merupakan pola tahunan sehingga sistem energi nasional telah terbiasa melakukan penyesuaian agar pasokan tetap aman dan distribusi berjalan lancar.

Dalam konteks itu, Tommy meminta masyarakat tidak terpengaruh spekulasi di ruang publik terkait kemungkinan kelangkaan BBM akibat konflik global. Ia menilai edukasi kepada masyarakat penting untuk mencegah panic buying yang justru berpotensi mengganggu stabilitas distribusi energi di tingkat lokal.