Perkembangan diplomasi internasional bergerak cepat seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Situasi ini menempatkan kawasan tersebut sebagai episentrum ketegangan yang memicu gejolak ekonomi dan dampak politik, termasuk memunculkan sorotan terhadap posisi Presiden Prabowo Subianto dalam membaca arah krisis global.
Di tengah berbagai pertanyaan sebagian tokoh mengenai kapasitas kenegaraan Prabowo, artikel opini yang dimuat KONTAN.CO.ID menilai ada kekeliruan dalam memahami akar kebijakan luar negeri Indonesia yang selama puluhan tahun berpegang pada prinsip politik bebas aktif. Prinsip ini disebut sebagai konsensus nasional sekaligus garis konstitusional yang terus relevan dalam menghadapi perubahan geopolitik.
Melalui politik bebas aktif, Prabowo digambarkan menegaskan “kompas moral” Indonesia dalam menghadapi krisis yang terpolarisasi. Prinsip tersebut diposisikan bukan sekadar warisan sejarah para pendiri bangsa, melainkan instrumen kedaulatan nasional untuk menjaga eksistensi Indonesia di tengah tarik-menarik kepentingan global.
Dalam pandangan penulis, sikap Prabowo dalam setiap konflik dan peperangan adalah berdiri di atas prinsip kedaulatan, tanpa mengambil posisi yang ambigu. Indonesia, menurut narasi tersebut, memilih menjadi jembatan perdamaian ketimbang mendukung salah satu pihak, meski pilihan itu dinilai tidak mudah karena adanya tekanan domestik agar pemerintah menyatakan keberpihakan.
Komitmen Indonesia terhadap penyelesaian damai dan penghormatan kedaulatan disebut selaras dengan amanat konstitusi. Posisi non-blok digambarkan sebagai garis diplomasi yang mendorong penyelesaian damai, sekaligus memuat dukungan konkret bagi kemerdekaan Palestina. Sikap ini juga dipandang berkaitan dengan upaya melindungi kepentingan energi dan pangan nasional.
Artikel tersebut menyoroti dampak ekonomi dari eskalasi perang yang berimbas pada ketegangan di Selat Hormuz, jalur laut yang disebut sebagai urat nadi ekonomi dunia. Ketika Hormuz terancam, pasokan minyak dapat terganggu, arus ekspor-impor tersendat, serta nilai tukar sejumlah mata uang tertekan. Kenaikan harga minyak dunia juga dinilai berpotensi memicu inflasi dan menekan daya beli.
Di tengah risiko itu, penulis menilai Indonesia tidak bersikap reaktif. Strategi yang disebut ditempuh adalah mendorong kemandirian melalui percepatan bioenergi dan diversifikasi sumber daya untuk mengurangi kerentanan terhadap dinamika global. Stabilitas nasional dipandang sebagai benteng kedaulatan, sementara posisi netral namun aktif mendorong perdamaian disebut turut mengamankan jalur perdagangan strategis.
Selain aspek energi, Timur Tengah digambarkan memiliki nilai strategis lain bagi Indonesia, termasuk sebagai sumber investasi bagi proyek infrastruktur IKN melalui sovereign wealth fund. Artikel itu juga menyinggung peran kawasan tersebut—khususnya Iran—dalam kontribusi intelektual melalui studi filsafat, mantiq, dan irfan, yang disebut memperkaya diskursus keislaman di Indonesia lewat beasiswa dan literatur.
Dalam bagian lain, penulis mengaitkan ketahanan nasional dengan agenda pembangunan sosial-ekonomi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar puluhan juta anak disebut sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat ekonomi akar rumput, bersama penguatan Koperasi Merah Putih dan desa nelayan, yang digambarkan sebagai upaya membangun “imunitas ekonomi”.
Artikel tersebut juga memuat rujukan religius, dengan menyebut doa dari Prof. Dr. Quraish Shihab untuk Presiden Prabowo. Doa itu dikaitkan dengan keyakinan bahwa kekuasaan bersumber dari Tuhan serta harapan agar kepemimpinan Prabowo mendapat pertolongan untuk menegakkan keadilan. Penulis menyebut hal itu sebagai bentuk pengakuan “langitan”, meminjam istilah Gus Dur.
Menutup tulisannya, penulis mendorong persatuan di tengah krisis global dan menekankan bahwa kekuatan negara tidak hanya bergantung pada persenjataan, tetapi juga pada soliditas rakyat. Artikel opini ini ditulis oleh Dr. Eko Wahyuanto, pengamat kebijakan publik, dan dimuat dengan keterangan Reporter: Native Team serta Editor: Indah Sulistyorini.

