Presiden RI Prabowo Subianto memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Jepang melalui penguatan kerja sama investasi berskala besar. Dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin (30/3), Prabowo menyaksikan pengumuman 10 Nota Kesepahaman (MoU) strategis dengan nilai total mencapai 22,6 miliar dolar AS atau setara Rp384,2 triliun.
Kesepakatan tersebut mencakup sejumlah sektor, mulai dari hilirisasi energi bersih, eksplorasi minyak dan gas, pengembangan semikonduktor, hingga penguatan ekosistem keuangan inklusif.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan momentum ini menjadi sinyal tingginya kepercayaan dunia usaha Jepang terhadap prospek ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. “Momen ini menjadi simbol konkret kolaborasi kedua negara sekaligus menunjukkan bahwa arah transformasi ekonomi Indonesia semakin modern, kompetitif, dan berkelanjutan,” ujar Teddy dalam keterangan resminya.
Salah satu poin utama yang disorot adalah proyek hilirisasi berbasis energi bersih, termasuk produksi metanol dari emisi karbon di Bontang, Kalimantan Timur. Proyek ini melibatkan PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT Kaltim Methanol Industri.
Adapun 10 kerja sama strategis yang diumumkan dalam forum tersebut meliputi: produksi metanol berbasis emisi CO2 di Bontang (PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT Kaltim Methanol Industri); kerja sama investasi dan niaga antara Kadin Indonesia dan Japan Chamber of Commerce and Industry; pengembangan lapangan gas abadi Blok Masela antara Pertamina dan INPEX; kemitraan sektor hulu migas di Indonesia dan Asia Tenggara antara Pertamina Hulu Energi dan INPEX; pengembangan ekosistem semikonduktor, desain chip, dan AI antara PT Eblo Teknologi Indonesia dan Hayashi Kinzoku Co., Ltd.; kajian proyek PLTP Rajabasa antara PT Supreme Energy Rajabasa dan INPEX; penguatan ekosistem emas dan inklusi keuangan antara PT Pegadaian dan PT Bank SMBC Indonesia; Strategic Beauty Partnership antara PT Nose Herbal Indo dan 2Way World; pembentukan Mandiri Aviation Leasing Fund yang melibatkan Danantara, Mandiri Investment Management, dan SMBC Aviation Capital; serta penguatan hubungan strategis antara JETRO dan PT Danantara Investment Management.
Nama Danantara tercantum dalam beberapa poin MoU, terutama terkait pembentukan Mandiri Aviation Leasing Fund dan kemitraan dengan JETRO. Hal ini menandai keterlibatan lembaga pengelola investasi baru Indonesia tersebut dalam menarik modal asing dan mengelola aset strategis untuk percepatan pertumbuhan ekonomi.
Forum Bisnis Indonesia-Jepang ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi di Asia Tenggara, terutama dalam agenda transisi energi dan pengembangan teknologi.

