Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya Indonesia mengambil langkah proaktif dan adaptif di tengah ketidakpastian situasi geopolitik di Asia Barat dan Timur Tengah. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan kondisi keamanan saat ini tanpa upaya nyata melakukan efisiensi nasional, terutama terkait konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Penekanan tersebut disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026). Dalam forum itu, ia menyoroti sejumlah kebijakan ekstrem yang disebut pemerintah Pakistan sebagai critical measures atau langkah-langkah kritis untuk menghadapi krisis, sebagai bahan perbandingan dan referensi.
Prabowo memaparkan beberapa poin kebijakan Pakistan, antara lain transformasi kerja dan pendidikan melalui penerapan sistem kerja dari rumah sebesar 50% untuk sektor publik dan swasta, serta pemangkasan hari kerja menjadi empat hari. Di sektor pendidikan, perguruan tinggi dialihkan ke sistem daring dan sekolah diliburkan sementara.
Selain itu, Pakistan juga disebut melakukan efisiensi anggaran pejabat dengan memotong gaji seluruh menteri kabinet dan anggota parlemen. Penghematan dari kebijakan tersebut dialokasikan khusus untuk membantu masyarakat golongan rentan.
Di sisi operasional negara, Pakistan menerapkan pembatasan ketat penggunaan BBM di tiap kementerian dan menginstruksikan agar 60% kendaraan dinas pemerintah tidak dioperasikan. Pemerintah Pakistan juga menghentikan belanja barang dari luar negeri seperti kendaraan dan furnitur, melarang kunjungan kerja ke luar negeri menggunakan dana negara, serta menghapus anggaran untuk acara seremonial atau pesta.
Prabowo menegaskan contoh kebijakan Pakistan perlu dikaji secara mendalam sebagai referensi bagi Indonesia dalam mendorong penghematan konsumsi secara kolektif. Meski menyatakan optimistis posisi Indonesia akan menguat dalam dua hingga tiga tahun ke depan, ia tetap menginstruksikan jajarannya menjaga disiplin anggaran agar defisit negara tetap terkendali.

