BERITA TERKINI
Prabowo Dijadwalkan Kunjungan Resmi ke Jepang Akhir Maret 2026, Bahas Ekonomi hingga Energi

Prabowo Dijadwalkan Kunjungan Resmi ke Jepang Akhir Maret 2026, Bahas Ekonomi hingga Energi

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan kunjungan resmi ke Jepang pada 29–31 Maret 2026. Lawatan ini disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah Indonesia memperdalam kemitraan strategis dengan Jepang melalui diplomasi tingkat tinggi.

Dalam agenda kunjungan tersebut, Prabowo direncanakan menggelar pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Kepala negara juga dijadwalkan menghadap Kaisar Jepang Naruhito sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan.

Fokus pembahasan dalam kunjungan ini diarahkan pada penguatan kerja sama di sektor-sektor strategis, terutama ekonomi, energi, dan keamanan. Pemerintah Indonesia memandang Jepang sebagai mitra penting untuk mendorong investasi industri, transisi energi bersih, serta pengembangan infrastruktur berkelanjutan.

Salah satu agenda utama adalah forum bisnis yang mempertemukan pelaku usaha dari kedua negara. Forum ini diharapkan dapat membuka peluang investasi baru, termasuk di sektor manufaktur, energi terbarukan, hingga hilirisasi sumber daya alam Indonesia.

Meski demikian, pemerintah memastikan tidak ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam kunjungan kali ini. Fokus kunjungan disebut lebih menitikberatkan pada penguatan komitmen dan penjajakan kerja sama lanjutan.

Kunjungan tersebut merupakan respons atas undangan resmi yang sebelumnya disampaikan oleh mantan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba saat melakukan lawatan ke Indonesia pada Januari 2025. Rencana lawatan ini juga menegaskan kesinambungan hubungan bilateral Indonesia–Jepang yang selama ini terjalin erat, khususnya di bidang perdagangan dan investasi.

Jepang dikenal sebagai salah satu investor terbesar di Indonesia, terutama pada sektor otomotif, energi, dan transportasi. Sejumlah media internasional turut menyoroti rencana kunjungan ini. Nikkei Asia menilai lawatan tersebut berpotensi mempercepat kolaborasi energi bersih di Asia Tenggara, terutama dalam pengembangan hidrogen dan amonia sebagai sumber energi masa depan.

Sementara itu, Reuters memandang pertemuan ini sebagai bagian dari upaya kedua negara memperkuat stabilitas kawasan Indo-Pasifik, termasuk dalam aspek rantai pasok dan keamanan energi di tengah ketidakpastian global.

Bagi Indonesia, kunjungan ini dinilai berpotensi membuka ruang peningkatan investasi langsung (FDI) dari Jepang yang selama ini konsisten menjadi salah satu kontributor utama. Selain itu, kerja sama teknologi dan industri diharapkan dapat mempercepat transformasi ekonomi nasional menuju sektor bernilai tambah tinggi.

Di tengah dinamika geopolitik global yang masih bergejolak, penguatan hubungan dengan mitra strategis seperti Jepang dipandang penting untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperluas peluang pertumbuhan jangka panjang.