Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bertemu Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah Abdullah II di Istana Basman, Amman, pada 25 Februari 2026. Pertemuan tersebut tidak hanya membahas agenda bilateral, tetapi juga menegaskan perhatian kedua negara terhadap isu-isu kemanusiaan di Timur Tengah, termasuk situasi Palestina.
Dalam pertemuan itu, Prabowo menyampaikan dukungan Indonesia terhadap solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian berkelanjutan. Sikap tersebut disampaikan sebagai bagian dari dorongan Indonesia terhadap penyelesaian damai yang dinilai penting bagi kesejahteraan masyarakat, serta akses yang lebih baik terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan kehidupan yang bermartabat.
Indonesia dan Yordania dikenal memiliki kepedulian kuat terhadap isu kemanusiaan, terutama terkait Palestina. Dalam konteks ini, dukungan Indonesia dipandang sebagai kelanjutan dari posisi yang konsisten, sejalan dengan nilai konstitusional yang menolak penjajahan dalam bentuk apa pun.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Yordania telah terjalin selama 75 tahun dan berkembang di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pertukaran pelajar, kerja sama keagamaan, hingga bantuan kemanusiaan. Yordania juga disebut menjadi salah satu hub penting Indonesia di Timur Tengah, yang membuka ruang interaksi sosial antara warga, pelajar, dan komunitas kedua negara.
Selain menyoroti Palestina, pertemuan itu juga menggambarkan pandangan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah memiliki dampak luas, termasuk terhadap ketahanan ekonomi, arus migrasi, dan stabilitas energi global. Dorongan pada perdamaian diposisikan sebagai kontribusi terhadap terciptanya lingkungan internasional yang lebih aman dan inklusif.
Suasana hangat dalam pertemuan Prabowo dan Raja Abdullah II turut menampilkan dimensi kedekatan antarmasyarakat. Prabowo menyampaikan ucapan “Ramadan Mubarak”, yang dipandang sebagai simbol kedekatan budaya dan nilai spiritual yang menyatukan kedua bangsa.
Secara keseluruhan, kunjungan tersebut menegaskan arah diplomasi Indonesia yang tidak semata berorientasi pada kepentingan strategis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial, melalui dialog, solusi damai, serta kolaborasi kemanusiaan bersama mitra di kawasan.

